Bogor, Aktual.com – Metode “brainwash” atau cuci otak bagi penderita stroke, adalah salah kaprah, kata dokter spesialis saraf Rumah Sakit PMI Bogor, Jawa Barat, dr Riri Sarisanti, SpS, FINS.

“Metode ‘brainwash’ sama saja dengan prosedur diagnostik kateterisasi otak yang bernama cerebral ‘Digital Subraction Angiography (DSA),” kata Riri di Bogor, Senin (2/11).

Metode “brainwash” bisa menangkal stroke telah berkembang di masyarakat. Banyak yang rela antre untuk membersihkan otaknya dari penyumbatan baik fisiologi maupun patologi. Riri menjelaskan, penamaan atau nomenklatur “brainwash” memang dibuat untuk metode penangan stroke agar terasa merakyat. Namun banyak lagi nomenklatur yang dibuat untuk metode yang sama seperti DSA.

“Apapun namanya yang dimaksud hanyalah satu metode, yakni menginjeksi heparin ke dalam pembuluh darah otak pada penyakit terkait dengan otak,” katanya.

Terkait anggapan yang berkembang di masyarakat bahwa pasien yang sudah menderita stroke menahun dan lumpuh bisa kembali berjalan setelah menjalani dengan metode “brain wash”.

“Inilah informasi yang menyesatkan (salah kaprah),” kata Riri yang merupakan neurointerventionist wanita pertama di Indonesia.

Dijelaskannya, “brainwash” bukan tindakan medis. Tujuannya adalah menghancurkan bekuan darah yang menyumbat pembuluh otak dengan cairan tertentu atau sama dengan tindakan terapi.

Terapi intervensi stroke iskemik dan trobolisis intra vena, kata dia, hanya diperbolehkan dalam waktu empat jam setengah sejak serangan terjadi. Trombolisis intra arteri hanya boleh dilakukan maksimal enam jam dan trombektomi maksimal delapan jam.

“Lebih dari batas waktu itu, maka cairan yang dimasukan tidak akan bermanfaat dan justru berpotensi menyebabkan pendarahan pada otak,” kata dia.

“Hal ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan “brainwash” yang bisa dilakukan setelah sekian tahun serangan atau malah sebagai tindakan pencegahan,” kata Riri.

Riri menyebutkan, ada beberapa gejala yang harus diperhatikan saat seseorang terkena stroke. Salah satunya mulut terlihat menyong, kedua lengan diangkat salah satu lengan tertinggal, berbicara cadel dan isi pembicaraan tidak dimengerti.

Selanjutnya tidak melihat sebelah serta sempoyongan atau jalan tidak seimbang.

Menurut dia, jika sudah begitu agar pasien di bawa ke rumah sakit terdekat. Pasien akan diberikan tindakan endovascular treatment atau neurovascular intervensi.

Riri menambahkan, masyarakat harus diberikan pemahaman tentang informasi bagaimana sesungguhnya “brainwash” mengingat minimnya pemahaman masyarakat terhadap dunia kedokteran. Selain itu, terapi “brain wash” tidak ada dalam standar pelaksanaan prosedur untuk stroke di seluruh dunia.

Artinya keamanan dan manfaat dari terapi cuci otak tersebut belum bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dasar yang paling penting untuk pertanggungjawaban seorang tenaga medis tersumpah saat menerapi pasiennya.

“Masyarakat harus diberi pemahaman. Ingin menyembuhkan tapi malah membahayakan. PERDOSSI tidak ingin menghakimi tindakan medis dokter, tetapi memiliki kewajiban moral untuk menyampaikan,” kata Riri yang tergabung dalam Persatuan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI).

Stroke merupakan penyakit kardiovaskuler yang paling ditakuti. Penyakit tersebut masih menduduki peringkat ketiga di dunia sebagai penyakit mematikan.

Stroke adalah gangguan fungsi otak yang timbulnya mendadak, berlangsung selama 24 jam atau lebih akibat dari gangguan peredaran darah ke otak.

Artikel ini ditulis oleh: