Ilustrasi Pengrajin Tahu

Banda Aceh, aktual.com – Kalangan pengrajin tahu di Kota Banda Aceh mengaku produksi usaha mereka kian merosot akibat dampak virus Corona serta kenaikan dolar terhadap rupiah.

Sekretaris Asosiasi Tahu Tempe Aceh Mulizar di Banda Aceh, Jumat, mengatakan kendala yang dihadapi pengrajin tahu sekarang ini semakin meningkatnya harga kedelai sebagai bahan baku tahu.

“Selain harga kian meningkat, kedelai juga sulit didapatkan. Ini karena kenaikan mata uang Amerika Serikat, dolar, serta pengaruh virus Corona yang kini mewabah secara global,” kata Mulizar.

Mulijar menyebutkan kenaikan dolar dan virus Corona turut berdampat pada produktivitas pengrajin. Biasanya produksi berkisar 500 hingga 650 kilogram, kini merosot antara 200 hingga 250 kilogram.

Sedangkan harga kedelai, kata Mulizar, sekarang ini sudah mencapai Rp8.300 per kilogram. Kenaikan harga kedelai berlangsung secara bertahap dari Rp6,800 per kilogram.

“Kami masih tetap bertahan dengan kondisi seperti ini. Selain produksi, kami juga terpaksa merumahkan pekerja untuk sementara waktu. Hal ini untuk mengurangi biaya produksi,” kata Mulizar.

Mulizar menyebutkan usaha tahunya terpaksa merumahkan dua pekerja untuk menyelamatkan pekerja lainnya. Jika tidak, biaya produksi terus membengkak, sementara pengembalian modal sulit didapat.

“Dulu ada tujuh pekerja. Sekarang tinggal lima lagi. Sementara, harga juga tahu tidak bisa kami naikkan. Apalagi daya beli masyarakat juga ikut menurun,” kata Mulizar.

Oleh karena itu, Mulizar mengatakan para pengrajin tahu dan tempe di Aceh mengharapkan pemerintah daerah membantu mereka menekan harga kedelai. Apalagi kedelai yang mereka gunakan merupakan barang impor.

“Kalau kedelai lokal tidak bisa digunakan, selain harganya lebih mahal, kualitas tidak sebaik kedelai impor. Kedelai lokal juga sulit didapatkan, bahkan tidak ada sama sekali,” kata Mulizar.

(Eko Priyanto)