Jakarta, Aktual.co —Secara umum baik sniper, penembak jitu, atau eksekutor terpidana mati merupakan orang-orang terpilih yang dipercaya untuk menjalankan misinya dari seorang pimpinan.

Terkait hal tersebut. Belum lama ini, Indonesia baru saja melaksanakan proses eksekusi mati kepada delapan narapidana di Nusakambangan, Cilacap Jawa Tengah. Memang bukan perkara mudah menjadi eksekutor sebuah hukuman mati.

Bagaimanakah perasaan mereka saat menjalankan tugasnya sebagai eksekutor terpidana mati tersebut?

Menurut Lia Sutisna Latif, M. Psi.,   Psikolog & Pengajar Forensik Kepolisian Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK-PTIK), Menekuni Psikologi Kriminal mengatakan para personil yang telah dipercaya sebagai eksekutor pidana mati, secara psikologis dipilih berdasarkan standar rekruitment yang telah ditetapkan.

“Pertama orang-orang terpilih ini pastinya sudah melalui proses rekruiment yang telah ditetapkan sesuai standar pimpinan ataupun organisasi. Selain itu, mereka telah melawati serangkaian test, mulai dari test psikologi, test IQ, test attitude serta tes dalam hal memiliki intelektual yang tinggi, ” jelasnya saat dihubungi via ponselnya Jumat (1/5).

“Kemudian secara psikologis orang-orang terpilih ini sudah sangat matang dalam menjalankan profesinya, ” sambungnya.

Lebih lanjut psikolog yang akrab di sapa Lia menjelaskan fisik bukanlah faktor pendukung utama bagi seseorang bisa terpilih dalam profesi ini. Selain dituntut memiliki ketajaman, kecermatan, ketepatan, intelektual dan intelegensi tinggi merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan profesi semacam ini.

“Jadi selain fisik, kesehatan, naluri yang tajam, intelegensi, attitude, scale serta cepat dan tepat ketika menyelesaikan tugas dengan baik, tentunya harus tertanam kepada penerima amanah ini,” paparnya.

“Yang jelas, tujuan serangkaian test yang harus dilewati para eksekutor terpidana mati ini. Untuk melihat apakah sang eksekutor ini pada akhirnya mampu dalam menyelesaikan tugasnya. Apalagi, melihat tingkat pengalaman seseorang berbeda-beda. Yang dikhawatirkan jika mereka tidak siap keadaan bersalah pastinya bisa saja menempel dalam hati sang eksekutor tersebut, Tetapi jika, orang tersebut profesional, mereka beranggapan kondisi ini merupakan tugas penting yang harus dilakukan dalam menjalani profesinya sebagai eksekutor ataupun seorang penembak jitu, ” terang Lia yang juga menekuni psikologi kriminal ini

Namun demikian, Lia membantah jika profesi seorang eksekutor maupun penembak jitu itu nantinya akan berdampak negatif bagi keluarganya, sehingga orang-orang terpilih ini melakukan hal yang diluar batas seperti halnya melakukan kekerasan dalam rumah tangga didalam keluarganya.

“Sejauh ini sih belum ada kasus semacam ini selama saya menangani profesi ini. Karena intelegensi orang-orang ini sangat tinggi. Mereka punya skor yang baik soalnya. Yang jelas, setiap beberapa bulan sekali, orang-orang terpilih ini selalu diberikan training, baik dari secara psikologis, secara spiritual bahkan sampai bagaimana dia menghadapi keluarga korban akan diberikan, ” bebernya.

“Kita lihat banyak orang memiliki kepercayaan, dalam arti orang-orang terpilih disini adalah orang baik, dan mereka juga memiliki empati yang berbeda dari orang lain, ” tuntasnya.

Artikel ini ditulis oleh: