Jakarta, Aktual.com – Presiden Lajnah Tanfidziyah (LT) Syarikat Islam Indonesia (SII) KH Muflich Chalif Ibrahim mengatakan puasa membentengi diri dari hasutan dan adu domba karena tujuan berpuasa adalah ketaqwaan kepada Allah SWT.

“Jadi itu secara otomatis menjadi benteng bagi diri manusia itu. Kalau dia merasa dirinya sebagai orang yang bertaqwa maka selama 24 jam dia merasa diawasi oleh Allah, baik ucapannya, perbuatannya, semuanya,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Rabu (21/4).

Untuk itu, dengan berpuasa Insya Allah akan terhindar dari perbuatan perbuatan yang tidak baik seperti menyebarkan hoaks, memprovokasi, adu domba dan sebagainya, katanya.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa dengan memahami hal tersebut maka tidak ada yang bisa dia sembunyikan luput dari pada pantauan Allah SWT. Karena menurutnya, setiap saat akan selalu merasa diawasi, selalu merasa dipantau, dan itu semuanya harus dipertanggungjawabkan kelak di kemudian hari.

”Dan puasa adalah instrumen untuk membentengi manusia itu. Karena Rasul Muhammad SAW sudah jelas mengatakan ‘shaum junnah’ yakni perisai, benteng pelindung, puasa dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik dan agar dijauhkan dari api neraka. Jadi pengawasannya itu melekat dengan melakukan puasa itu,” jelas Muflich.

Selain itu, pria kelahiran Jakarta, 8 November 1970 itu juga menjelaskan bahwa Islam itu sebagai kekuatan spiritualitas menekankan untuk senantiasa peduli dan memihak terhadap yang lemah.

Oleh karena itu menurutnya relasi puasa itu juga terkait dengan misalnya zakat yang harus dibayarkan sebelum puasa usai, imbauan kesediaan untuk membantu, memperbanyak infaq, shodaqoh, hibah, distribusi kekayaan dari kaya ke miskin.

“Yang mana semua itu percepatannya demi keadilan sosial itu. Jadi substansi puasa itu kalau tidak dibarengi dengan komitmen sosial, tentunya puasa itu hampir tidak bermakna,” katanya.

Dalam memaknai puasa ini, ia menambahkan bahwa kita mesti “muhasabah” (instropeksi diri) dengan memperbaiki hati, melatih, menyucikan, dan membersihkannya.

Ia mengatakan, Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan janganlah puasa ini menjadi penahan lapar dan haus saja yang pada akhirnya tidak tercapai tujuan dari puasa itu.

“Kalau selama puasa itu dia tetap melakukan hal-hal yang diharamkan dan dilarang oleh Allah, seperti mengadu domba, ghibah, menyebar fitnah tentu akan tidak bermakna puasanya,” terangnya.

Sementara itu, di masa Ramadhan ini, KH Muflich menambahkan bahwa sinergisitas para ulama dan umara (pemimpin) itu harus terus dilakukan dan terbangun sedemikian rupa. Ini agar apa yang menjadi kebijakan itu bisa merupakan kesepakatan ulama-umara.

Sehingga dengan demikian, kebijakan-kebijakan yang dilaksanakan dapat berjalan dengan efektif. Seperti kebijakan pelaksanaan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran virus COVID-19.

Dirinya juga berharap agar para tokoh dapat menjadi contoh dan tauladan yang baik. “Untuk itu marilah dengan puasa ini kita bersama-sama meningkatkan ketakwaan kita agar kita semua juga terbentengi dari hoaks, provokasi dan ujaran kebencian,” ujarnya mengakhiri.(Antara)

(Warto'i)