Yogyakarta, Aktual.com – Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah resmi meluncurkan 116 Pos Bantuan Hukum (Posbakum) di seluruh Indonesia yang dapat diakses masyarakat secara gratis, sebagai bagian dari dakwah kemanusiaan sekaligus memperingati Milad ke-109.
“Kita launching kembali sebagai bentuk layanan kemanusiaan PP ‘Aisyiyah kepada para perempuan yang mempunyai masalah hukum melalui Posbakum,” kata Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Salmah Orbayinah, di Yogyakarta, Selasa (19/5).
Menurutnya, layanan Posbakum ini merupakan bagian dari upaya ‘Aisyiyah untuk mencegah masalah kekerasan yang dialami masyarakat, khususnya terhadap perempuan.
“Layanan tidak dipungut biaya sedikit pun,” kata Salmah.
Melalui program Posbakum, lanjut Salmah, ‘Aisyiyah memantapkan gerak dakwahnya untuk membangun masyarakat Indonesia yang adil, damai, dan berkeadaban, khususnya bagi perempuan, anak, dan kelompok rentan termasuk kelompok difabel.
“Dakwah tidak hanya dimaknai sebagai ajaran normatif, tetapi praktik nyata dalam mengatasi kemiskinan, kebodohan, ketimpangan sosial, kekerasan, serta membangun kehidupan yang damai dan berkeadilan,” kata dia.
Ia menjelaskan, layanan Posbakum bertujuan mengupayakan penyadaran hukum, penguatan paralegal di komunitas, hingga pendampingan hukum bagi korban kekerasan.
“Diwujudkan melalui perlindungan hukum yang berkeadilan, aksesibel, dan melindungi kelompok rentan,” katanya.
Program ini, lanjut Salmah, juga sebagai penguatan reformasi hukum dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) yang masuk dalam kebijakan pembangunan nasional penguatan layanan bantuan hukum di level desa dan kelurahan.
Sementara itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menambahkan sejak awal berdiri ‘Aisyiyah hadir untuk melawan dua hambatan besar bagi perempuan, yakni tafsir keagamaan konservatif dan budaya yang menempatkan perempuan hanya di ranah domestik.
“Hari ini miladnya ‘Aisyiyah ke-109 sebagai organisasi perempuan Islam modern pertama di Indonesia yang mendobrak pandangan agama yang konservatif yang menghalangi perempuan untuk berada dan berperan di ruang publik,” kata Haedar.
Menurutnya, ‘Aisyiyah juga menjadi pendobrak adanya budaya yang tidak menghendaki perempuan mempunyai peran publik dan hanya condong dalam urusan domestik.
“Aisyiyah bukan hanya gerakan pemikiran, tapi gerakan yang membumi dengan menciptakan Froebel sebagai embrio taman kanak-kanak,” katanya.
Artikel ini ditulis oleh:
Eroby Jawi Fahmi

















