Saudaraku, bulan puasa datang berpulang, mengajak kita jeda kerutinan. Ibarat musim gugur memberi pepohonan saat meranggas. Dedaunan pun jatuh luruh, gugur-tafakur, pulang ke akar, menyuburkan kehidupan.

Sesungguhnya bejana kehidupan yang penuh jemu susah menerima pengisian. Perut yang terus-terusan kenyang jadi biang penyakit. Hati yang mengejuju jenuh jadi perigi depresi. Organ yang tunak bergerak jadi mudah lapuk.

Manusia memerlukan jeda pengosongan, penyegaran, pengasoan. Sela puasa jadi momen hibernasi untuk memulihkan kesehatan jasmani-rohani. Sedemikian vitalnya, hingga Tuhan pun menyeru manusia melakukannya; menghargainya sebagai persembahan spesial buat-Nya.

Maksud puasa kurangi kepenuhan perut, janganlah diisi gairah konsumsi dengan ritual kenaikan harga. Maksud puasa lepaskan tekanan hati, janganlah disesaki asap pergunjingan dan permusuhan. Maksud puasa istirahatkan organ tubuh, jangan ditambah beban pencernaan.

Pengurangan konsumsi bisa menurunkan kolesterol jahat dalam tubuh; berbagi gizi-kenikmatan pada sesama. Pengosongan perut bisa mengistirahatkan pencernaan; memberi efek detoksifikasi dan peremajaan sel-sel otak. Pelepasan tekanan hati, lewat zikir dan aneka ibadah, membebaskan jiwa dan penjara rutinitas masalah.

Dengan mengendalikan diri dari gravitasi syahwat bumi, roh manusia bisa mikraj ke langit tertinggi. Dengan melesat ke langit suci, mental manusia terbang dari kesadaran personal menuju transpersonal.

Dalam kesadaran transpersonal, kehidupan berkembang dari pernik-pernik eksistensi sehari-hari menuju eksistensi kosmik yang luas. Dalam keluasan kesadaran kosmik, manusia bisa melihat segala sesuatu saling terhubung.

Tumbuhlah kesadaran hakikat (perawatan) yang dapat menenggelamkan egosentrisme demi mencintai dan bersatu dengan alam semesta; aktif hadir saat sekarang dan bersentuhan secara utuh dengan lumpur pesoalan di akar rumput. Dengan itulah manusia mencapai kebahagian paripurna.

Makrifat Pagi, Yudi Latif

(As'ad Syamsul Abidin)