Bulan puasa ini ibarat miniatur kehidupan. Bahwa hidup kita ini hanya masalah menunggu maghrib, hidup ini hanya masalah menunggu azan. Antara subuh dan magrib, jaga diri jangan makan jangan minum. Nanti kalau sudah magrib, baru dibolehkan makan minum apa saja yang dihalalkan Allah.

Tetapi kalau belum magrib jangan coba-coba makan minum. Kalau kita makan minum, maka batal-lah puasa kita. Makan siang, nikmatnya hanya siang saja. Saat maghrib nanti, tidak akan mendapatkan kenikmatan berbuka puasa, karena sudah berbuka duluan. Maka orang yang menuruti hawa nafsu sesaatnya untuk merasakan kenikmatan dunia yang tidak halal, akan diharamkan dari kenikmatan abadi yang diridhai Allah swt.

Dan, subuh itu seperti kelahiran kita, sementara magrib kematian kita. Antara ashar dan maghrib, jaga perintah dan larangan  Allah. Tunggulah sejenak sampai magrib. Nanti kalau sudah magrib, sudah di surga, semua tentu diperbolehkan. “Wa lakum fîhâ mâ tasytahî anfusukum, wa lakum fîhâ ma tadda’ûn”.

Di dunia ini, kita ditipu oleh panca indra dan diprovokasi oleh nafsu. Contoh, sekarang, kita sebut dari masjid ke pos satpam itu jauh. Padahal 20 tahun yang lalu, itu dekat sekali. Sebab waktu itu motor belum populer. Sekarang karena motor populer, semua orang menggunakan motor. Jarak 100 meter saja harus pakai motor. Panca indra mata kita melihat, lalu direspon oleh otak, nafsu terlibat memprovokasi, akhirnya kita ke pos satpam harus menggunakan motor. Karena harus pakai motor, motor pakai bensin (energi), maka harus beli bensin. Harus cari uang, lalu dalam skala lebih besar menyebabkan perang antar negara untuk berebut energi bumi. Semua berawal dari ilusi pancaindra yang diprovokasi oleh nafsu.

Ilusi panca indra yang diprovokasi nafsu itulah yang membuat hidup kita sibuk dengan urusan-urusan yang tidak perlu. Akhirnya, kita pun melupakan sesuatu yang sangat utama yaitu (hidup) tinggal menunggu magrib.

Contoh tipuan panca indra adalah, kalau kita berpuasa, perut kita terasa lapar. Lalu mata kita pun lapar melihat berbagai gambar makanan. Kita katakan nanti kalau berbuka, saya mau makan ini, lalu ini, dan ini. Padahal ketika berbuka, minum air segelas, makan kurma 3 butir dan satu lontong sudah terasa cukup. Akhirnya makanan yang lain tidak dimakan. Karena itulah, tak mengherankan di dunia ini kita berlomba-lomba menumpuk harta kekayaan jabatan. Karena saat mata kita melihat hal itu, nafsu untuk memiliki selalu bangkit. Padahal kebutuhan kita tentu tidak harus sebanyak itu.

Karena banyaknya ilusi yang menipu mata kita (zuyyina linnâsi hubbu asy-syahawât), ditiup oleh setan sehingga nafsu ikut terlibat, sibuk, repot dan ribet pada urusan yang sebenarnya tidak perlu, bahkan mendurhakai Allah. Oleh sebab itu, kita membutuhkan sesuatu yang mengingatkan kembali bahwa ini belum magrib, bahwa kita sedang puasa. Nanti kalau sudah magrib, barulah kita boleh berbuka puasa. Allah swt berfirman: “Qul a’unabbiukum bi khirin min dzâlikum…”.

Karena itu, manusia harus mengasah ruhnya. Ruh yang dulu dominan sebelum diciptakan jasad, dan bersaksi: “alastu bi robbikum balâ”. Ketika dilahirkan dalam bentuk materi dan berhadapan dengan lingkungan, manusia berubah jadi materialis dan hedonis. Ruhnya seketika melemah dan melupakan Allah sebagai Tuhannya.

Latihan itu namanya riyadoh ruhaniyah: olah jiwa dengan cara muhasabah, mudzakarah, merenungi, intropeksi diri. Tujuannya supaya ruhnya menguat dan tidak mudah tertipu kenikmatan sesaat. Supaya saat magrib tiba, kita bisa merasakan kenikmatan abadi.

Selamat berpuasa.

Mukhrij Sidqy,
Dewan Pengawas Syariah LAZ Ar-Raudhah.

(A. Hilmi)