Ilustrasi Makanan Berbuka Puasa

Oleh: H. Abdul Mughni

Jakarta, aktual.com – Berkunjung dan bersilaturahmi dalam kehidupan sehari-hari sering dilakukan oleh seseorang, baik ke rumah guru, saudara, teman, atau yang lainnya. Tuan rumah biasanya sudah menyiapkan makanan dan minuman sebagai bentuk penghormatan terhadap tamu, terlebih jika tamu tersebut dianggap istimewa.

Silaturahmi dan menghormati tamu merupakan anjuran dalam Islam yang telah dijelaskan dalam an-nushush as-syari’ah, baik dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits.

Namun, terkadang seseorang bertamu dalam keadaan sedang berpuasa sunnah, sementara tuan rumah telah menyiapkan segala sesuatunya. Demi menghormati tamu (ikram ad-dhuyuf), bagaimana seharusnya sikap tamu yang sedang berpuasa sunnah? Apakah ia harus membatalkan puasanya atau tetap melanjutkannya?

Dalam hal ini, Syekh Zainuddin Al-Malibary dalam kitabnya Fathul Mu’in menjelaskan sebagai berikut:

(فروع) يندب الأكل فى صوم نفل ولو مؤكدا لإرضاه ذى الطعام………قال الغزالى يندب أن ينوى بفطره إدخال السرور عليه ويجوز للضيف أن يأكل مما قدم له بلا لفظ من المضيف

“Disunnahkan makan (saat bertamu) ketika sedang berpuasa sunnah, meskipun sunnah muakkadah, untuk menyenangkan shohibul bait atau orang yang mengundang jamuan makan (traktir) demi keridhaannya, jika dikhawatirkan menahan puasanya akan menyinggung perasaan shohibul bait, meskipun berada di akhir siang hari (misal baru puasa sampai jam 14.00). Sebab, ada perintah untuk membatalkan puasa, dan dia akan tetap mendapatkan pahala atas puasa yang telah dijalankan sebelumnya. Dianjurkan pula mengqadha di hari lain. Namun, jika tidak menyebabkan tersinggungnya tuan rumah, maka disunnahkan untuk tidak membatalkan puasanya.”

Imam Al-Ghazali menambahkan:

“Disunnahkan berniat untuk menyenangkan (idkhalus surur) perasaan tuan rumah pada saat membatalkan puasa, dan bagi tamu dibolehkan menikmati makanan yang telah dihidangkan, meskipun belum dipersilakan dengan ucapan dari tuan rumah.”

(Fathul Mu’in/ Hasyiyah I’anatut Thalibin, juz 3, hal. 365-366, Haramain)

Dalam Hasyiyah I’anatut Thalibin juga dijelaskan bahwa kebolehan makan makanan yang telah disediakan oleh tuan rumah tetap berlaku meskipun tanpa izin secara lisan, karena hal ini telah menjadi adat kebiasaan.

يجوز له الأكل من غير لفظ صادر من المضيف يدل على الإذن فيه اكتفاء بالقرينة العرفية

“Dibolehkan baginya makan tanpa adanya pernyataan lisan dari tuan rumah sebagai tanda izin, cukup dengan isyarat kebiasaan yang telah berlaku.”

(Hasyiyah I’anatut Thalibin, juz 3, hal. 366)

Syekh Muhyiddin bin Syarof An-Nawawi dalam kitabnya Al-Adzkar An-Nawawi menegaskan bahwa disunnahkan bagi tuan rumah untuk mengucapkan Bismillah, “Makanlah”, atau ungkapan lain yang secara jelas memberikan izin untuk memulai makan.

قال النووي فى الأذكار إعلم أنه يستحب لصاحب الطعام أن يقول لضيفه عند تقديم الطعام بسم الله أو كل أو نحو ذلك من العبارات المصرحة بإذن فى الشروع فى الأكل

“Ketahuilah bahwa dianjurkan bagi tuan rumah untuk mengatakan kepada tamunya saat menyajikan makanan, ‘Bismillah’ atau ‘Makanlah’ atau ungkapan lain yang secara jelas menunjukkan izin untuk memulai makan.”

(Hasyiyah I’anatut Thalibin, juz 3, hal. 366)

Jadi, keputusan untuk membatalkan puasa atau tidak tergantung pada keadaan shohibul bait. Jika menahan puasa dapat menyebabkan kekecewaan bagi tuan rumah yang telah bersusah payah menyiapkan hidangan, maka disunnahkan untuk membatalkan puasa. Sebaliknya, jika tuan rumah tidak keberatan, maka dianjurkan untuk tetap melanjutkan puasa. Alternatif lain adalah memberi tahu tuan rumah sebelumnya agar tidak perlu repot menyiapkan makanan dan minuman karena sedang berpuasa.

Pembahasan ini juga diperkuat dengan hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi sebagaimana disebutkan dalam Kitab I’anatut Thalibin Syarah Fathul Mu’in:

أنه صلى الله عليه وسلم لما أمسك من حضر معه وقال إنى صائم قال له يتكلف لك أخوك المسلم وتقول إنى صائم أفطر ثم أقض يوما مكانه أى إن شئت

“Bahwasanya Rasulullah SAW bertemu dengan sahabatnya yang sedang berpuasa. Sang sahabat berkata, ‘Saya sedang berpuasa.’ Rasulullah SAW menegurnya dengan berkata, ‘Saudaramu sesama Muslim telah bersusah payah menyiapkan makanan untukmu, dan kamu mengatakan sedang berpuasa? Berbukalah, lalu gantilah (qadha) di hari yang lain.'”

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain