Namun, dia berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih dengan memperbaiki infrastruktur jalan menuju PLG. Dari pantauan Antara, akses jalan menuju PLG masih belum diaspal. Kontur jalan yang merupakan tanah lempung sangat licin untuk dilalui setelah diguyur hujan.
Selain itu, fasilitas di PLG gajah juga cukup minim untuk memanjakan pengunjung. Padahal, jika kedua fasilitas itu diperbaiki, serta didukung aturan yang baik, tidak dipungkiri PLG menjadi destinasi wisata pilihan serta mampu meningkatkan ekonomi masyarakat setempat.
Staf PLG Minas, Khairul Amri mengatakan sebanyak 16 ekor gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) jinak menghuni pusat latihan gajah (PLG) Minas tersebut.
Ia mengatak, lima ekor diantaranya merupakan gajah betina yang masing-masing bernama Indah, Vera, Sela, Nia dan Dayang.
Sementara, 11 gajah jantan terdiri dari Seng Arun, Bankin, Jopi, Bangsong, Doni, Giam, Reno, Budi, Pato, Angga, dan Diego.
Seng Arun, kata dia, merupakan gajah tertua di pusat pelatihan gajah terbesar di Provinsi Riau tersebut. Gajah berbobot lebih dari 3,3 ton itu saat ini berusia sekitar 45 tahun.
Sementara, gajah yang paling muda adalah Diego, berusia delapan tahun. Gajah jantan yang memiliki nama mirip pemain sepak bola itu merupakan anak dari Vera, salah satu gajah betina dewasa di sana.
“Seluruh gajah di sini dijaga dan dirawat oleh 30 staf, baik mahot, medis dan lainnya,” ujarnya.
ant
Artikel ini ditulis oleh:
Nebby
















