Kaisar Akihito

Jakarta, Aktual.Com-Kaisar Akihito dikabarkan akan turun tahta dan digantikan oleh putra sulungnya per 1 Januari 2019, Jadwal suksesi itu terjadi di saat pemerintah tengah bekerja menyusun kerangka hukum terkait dengan peralihan tahta pertama dalam 200 tahun.

Akihito, (83), sendiri mengajukan keinginan itu pada Agustus lalu dengan alasan kesehatan dan usia yang telah lanjut, dirinya telah berkuasa hampir tiga dekade menduduki Singgasana Krisan.

“Putra Mahkota Naruhito, 56, akan menggantikan ayahnya pada Hari Tahun Baru 2019,” ucap sumber yang tidak disebutkan namanya seperti dilansir dari sejumlah media, Yomiuri, Asahi, Mainichi, Nikkei dan dilansir AFP, Kamis (12/1/2017).

Sementara saat dikonfirmasi terkait kabar ini, Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga enggan berkomentar saat digelarnya konferensi pers regulernya, Rabu kemarin.

Setelah rencana pengunduran diri Akihito tahun lalu, pemerintah pun segera membentuk panel ahli yang membantu memutuskan cara terbaik buat mempersiapkannya karena urusan ini penuh tantangan sejarah dan hukum.

Meskipun pelepasan tahta sudah terjadi dalam sejarah kekaisaran Jepang sejak lama, belum satu kali pun terjadi dalam 200 tahun terakhir. Di bawah undang-undang yang berlaku saat ini tidak ada mekanisme hukum untuk mengaturnya.

Panel ahli yang beranggota enam orang telah membahas berbagai pilihan hukum, dipicu ramainya usulan agar pilihan itu dimajukan ke parlemen untuk menjadi undang-undang khusus yang hanya berlaku satu kali untuk memungkinkan Akihito turun tahta.

Turun tahta adalah suatu masalah sensitif dalam sorotan sejarah modern Jepang, yang melancarkan perang di masa ayah Akihito, kaisar terdahulu, Hirohito, yang mangkat pada 1989.

Beberapa tokoh agama dan politisi khawatir jika persoalan pelepasan tahta dapat memecahkan masalah dan risiko raja Jepang yang secara konstitusional dibatasi menjadi simbol bangsa menjadi subyek manipulasi politik.

Panel diharapkan bisa mengumpulkan ringkasan pandangannya tentang masalah ini pada Januari. Akihito sudah sangat menyadari peran simbolis yang diberlakukan pada keluarga kekaisaran setelah kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II. Kaisar sebelumnya termasuk ayahnya, Hirohito, diperlakukan sebagai setengah dewa.

Artikel ini ditulis oleh:

Bawaan Situs