Denpasar, Aktual.co — Anak-anak melayan di sekitar Danau Tamblingan, Kabupaten Buleleng, tak masuk sekolah. Mereka trauma akibat pembakaran rumah oleh warga yang mengatasnamakan adat. 
Pada peristiwa nahas itu juga seragam serta buku sekolah mereka ikut terbakar.
Aksi anarkisme massa itu masih menyisakan pilu. Puluhan KK kini tak memiliki tempat tinggal. Ternak mereka juga musnah.
“Mereka menggusur dan membakar rumah. Hewan ternak seperti ayam dipotong, kambing disiksa. Seragam sekolah anak-anak juga turut dibakar,” ujar Koordinator Sekretariat Kerja Perlindungan dan Pelestarian Lingkungan Hidup (SKPPLH) Bali Made Mangku, Senin (27/4).
Sejak insiden pembakaran itu, belasan anak yang masih duduk di bangku SD masih syok, dan ketakutan pergi sekolah. Mereka terus dalam perlindungan orangtuanya yang tinggal di pengungsian.
Made Mangku mengkhawatirkan kondisi anak-anak tersebut jika terus tinggal di pengungsian, utamanya terkait pendidikan dan kesehatan mereka. Mereka hanya tinggal di gubuk-gubuk sederhana yang didirikan pasca-aksi anarkis pada Sabtu 25 April lalu.
Menurut Made Mangku, warga bertahan karena tidak ada pilihan lain. Sebab kini mereka tak memiliki tempat tinggal.
Yang disesalkan, dengan kondisi memprihatinkan warga nelayan itu, hingga dua hari paska insiden tak ada satupun aparat pemerintahan yang menengok mereka.
“Jangankan memberi bantuan, datang menengok saja (aparat pemerintahan) tidak mau. padahal mereka itu warga negara dan punya dasar dan alasan kuat kenapa tinggal di sekitar hutan lindung,” tegas dia.

Artikel ini ditulis oleh: