Suasana museum lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Senin (27/11/2017). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini ditutup turun tipis sebesar 2,553 poin atau setara dengan 0,042% ke level 6.064,58. Tren negatif bursa saham Tanah Air sepanjang hari terjadi di tengah ambruknya bursa saham Asia. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, Aktual.com – Analis pasar modal Reza Priyambada mengungkapkan kembali meningkatnya laju Rupiah masih memberikan sentimen positif pada laju pasar obligasi. Pelaku pasar memanfaatkan kenaikan tersebut untuk kembali masuk pada sejumlah seri sehingga terangkat harganya.

“Pada perdagangan hari ini (27/8) diprediksikan pergerakan nilai tukar Rupiah yang masih melemah tampaknya masih akan menghambat peluang pergerakan pasar obligasi dalam negeri untuk kembali menguat. Di sisi lain, pergerakan imbal hasil obligasi AS terlihat meningkat pasca pertemuan The Fed yang mengatakan potensi kenaikan bertahap dari suku bunga The Fed. Sejumlah imbal hasil pun masih berpeluang untuk kembali naik. Untuk itu meski diharapkan pelemahan dapat lebih terbatas,” ujar Reza di Jakarta, Senin (27/8).

Pada perdangan akhir pekan kemarin, berkurangnya apresiasi USD yang diikuti dengan turunnya sejumlah imbal hasil acuan obligasi AS seiring aksi pelaku pasar yang menahan diri jelang rilis Fed Minutes turut menopang kenaikan pasar obligasi dalam negeri. Adapun untuk pergerakan masing-masing tenor ialah untuk tenor pendek (1-4 tahun) imbal hasilnya rata-rata naik 1,04 bps; tenor menengah (5-7 tahun) turun 3,55 bps; dan panjang (8-30 tahun) turun 3,55 bps.

Laju pasar obligasi cenderung kembali menguat dengan merespon sejumlah sentimen positif. Pada FR0063 yang memiliki waktu jatuh tempo ±5 tahun dengan harga 92,14% memiliki imbal hasil 7,63% atau turun 0,06 bps dari sebelumnya di harga 91,91% memiliki imbal hasil 7,69%. Untuk FR0075 yang memiliki waktu jatuh tempo ±20 tahun dengan harga 92,38% memiliki imbal hasil 8,29% atau turun 0,04 bps dari sehari sebelumnya di harga 92,00% memiliki imbal hasil 8,33%.

Pada Jumat (24/8), rata-rata harga obligasi Pemerintah yang tercermin pada INDOBeX Government Clean Price turun 0,05 bps di level 109,44 dari sebelumnya di level 109,50. Adapun, rata-rata harga obligasi korporasi yang tercermin pada INDOBeX Corporate Clean Price turun 0,06 bps di level 105,15 dari sebelumnya di level 105,21. Sementara itu, pergerakan imbal hasil SUN 10Yr berada di level 7,94% dari sebelumnya di level 7,85% dan US Govn’t bond 10Yr di level 2,818% dari sebelumnya di level 2,821% sehingga spread di level kisaran 512,2 bps lebih tinggi dari sebelumnya 502,9 bps.

Sementara pada laju imbal hasil obligasi korporasi, pergerakannya cenderung variatif. Pada obligasi korporasi dengan rating AAA dimana imbal hasil untuk tenor 9-10 bergerak turun tipis di kisaran level 9,83%-9,93%. Pada rating AA dengan tenor 9-10 tahun di kisaran 10,18%-10,24%. Pada rating A dengan tenor 9-10 tahun di kisaran 11,42%-11,52%, dan pada rating BBB di kisaran 14,01%-14,03%.

(Eka)