Presiden Rusia Vladimir Putin

Moskow, Aktual.com – Rusia tengah berkomunikasi dengan para petinggi Taliban melalui kedutaan besarnya di Kabul, kata perwakilan khusus Presiden Vladimir Putin terkait Afghanistan pada Senin (16/8).

Komunikasi itu berlangsung satu hari setelah pemerintahan Afghanistan runtuh dan ibu kotanya jatuh ke tangan kelompok-kelompok gerilyawan Taliban.

“Mereka berbicara di Kabul. Semua kontak berjalan di sana saat ini. Kedutaan sedang berurusan dengan ini,” kata Zamir Kabulov, yang merupakan perwakilan Presiden Putin, melalui sambungan telepon kepada Reuters. Kontak dimulai ketika Taliban mengerahkan penjaga ke kedutaan Rusia, setelah pemberontak merebut Kabul.

“Proses itu benar-benar berjalan dengan tenang dan tanpa insiden. Mereka (Taliban) datang dan mengambil alih (kedubes) di bawah penjagaan,” katanya.

“Kedutaan kami akan tetap berhubungan dengan perwakilan yang ditugaskan secara khusus dari kepemimpinan tinggi Taliban untuk menyusun mekanisme permanen untuk memastikan keamanan kedutaan kami,” katanya.

Komentar itu muncul ketika para pejabat Taliban menyatakan perang telah berakhir dan mengeluarkan pernyataan guna meredakan kepanikan yang telah menyebar di Kabul ketika para gerilyawan, yang memerintah dari tahun 1996 hingga 2001, mengusir pasukan pemerintah yang didukung oleh Amerika Serikat.

Negara-negara Barat bergegas untuk mengevakuasi staf dari kedutaan mereka di Kabul.

Kabulov menyatakan pada stasiun radio Ekho Moskvy pada Senin bahwa Rusia juga akan menarik sekitar 100 pegawai kedutaannya.

“Sebagian dari staf kami akan dikirim berlibur atau dievakuasi dengan cara lain agar tidak terlalu banyak kehadiran.”

Dia kemudian mengatakan kepada Reuters bahwa langkah tersebut bukanlah evakuasi.

“Beberapa karyawan akan pergi berlibur saat musim panas belum berakhir,” katanya. Dia menolak mengatakan berapa banyak anggota misi Rusia yang akan ditarik dari Afghanistan.

Rusia tidak akan terburu-buru mengambil keputusan terkait apakah pihaknya akan mengakui otoritas Afghanistan yang baru, kata kantor berita RIA mengutip Kabulov.

Dalam komentar di stasiun radio Ekho Moskvy, pejabat tersebut mengatakan bahwa Moskow akan mengawasi tindakan otoritas baru dengan cermat dan kemudian akan membuat keputusan. (Reuters)

(As'ad Syamsul Abidin)