Jakarta, Aktual.co —Rusia memimpin inisiatif Dewan Keamanan PBB untuk meningkatkan tekanan pada negara-negara guna memotong arus kas ISIS, menurut Rusia dan dewan diplomat pada Rabu (4/2). Pengumuman ini terjadi setelah 15 negara Dewan Keamanan mengutuk ISIS yang membakar hidup-hidup seorang tawanan pilot Yordania. Pembunuhan brutal ISIS terhadap sandera dari Yordania, Jepang dan lainnya telah memperkuat tekad negara-negara anggota PBB untuk bertindak, sepert yang dikutip CNNndonesia.com.

Kini, resolusi yang akan diajukan Rusia akan berfokus pada tiga sumber utama pendapatan ISIS: minyak, penjualan barang antik dan uang tebusan dari penculikan. Resolusi itu akan menuntut negara-negara untuk tidak membeli minyak dari ISIS, berhenti membayar uang tebusan dan tidak membeli barang antik dijarah oleh kelompok militan itu. “Kita tahu bahwa rezim Suriah telah membeli minyak, beberapa orang Turki juga telah membeli minyak,” kata seorang diplomat senior Barat yang berbicara dengan syarat anonimitas.

Dia menambahkan bahwa meskipun resolusi dewan PBB melarang pembayaran tebusan, beberapa negara terus membayar uang untuk membebaskan sandera. Sebelum serangan udara pimpinan AS terhadap ISIS dilancarkan di Suriah dan Irak, sumber utama pendapatan kelompok itu adalah minyak. Pada Oktober, Badan Energi Internasional mengatakan sasaran koalisi terhadap infrastruktur minyak yang dimiliki oleh ISIS menjatuhkan produksi minyak mentah menjadi sekitar 20 ribu barel per hari (bph) dari sekitar 70 ribu bph yang mereka capai setelah menguasai makin banyak wilayah di Irak dan Suriah pada musim panas tahun lalu.

Pentagon mengatakan pada Selasa (3/2) bahwa minyak tidak lagi menjadi sumber utama finansial ISIS. Seorang diplomat Barat lain yang juga berbicara dengan syarat anonim, mengatakan bahwa pendapatan minyak ISIS telah turun ke sekitar US$500 ribu per hari dari lebih dari US$1 juta dua bulan yang lalu. Menurut laporan PBB pada November, ISIS menghasilkan beberapa juta dolar per bulan dari pajak ilegal dan sekitar US$96 ribu hingga US$123 ribu per hari dari pembayaran uang tebusan tawanan. Selain barang antik, sumbangan pribadi juga menjadi sumber pendapatan ISIS.