FILE PHOTO: A woman walks into the head office of the World Anti-Doping Agency (WADA) in Montreal, Quebec, Canada November 9, 2015. REUTERS/Christinne Muschi (REUTERS/Christinne Muschi)

Jakarta, Aktual.com – Asosiasi Pelatih Sepak Bola Seluruh Indonesia (APSSI) mendukung pembentukan Satuan Tugas (Satgas) khusus untuk mempercepat dan menginvestigasi kasus sanksi Badan Anti-Doping Dunia (WADA) terhadap Lembaga Anti-Doping Indonesia (LADI).

“Langkah cepat Menpora harus diapresiasi dan didukung oleh semua pihak terkait, termasuk ‘stakeholder’ olahraga dan masyarakat Indonesia,” ujar Ketua APSSI Yeyen Tumena, dikutip dari laman PSSI di Jakarta, Kamis.

Yeyen pun berharap satgas yang dipimpin Ketua Umum KOI Raja Sapta Oktohari itu dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik.

Selain itu, dia pun meminta agar LADI dan Satgas mengerjakan tugas masing-masing dan tidak tumpang tindih yang dapat memperkeruh suasana.

Yeyen juga merasa yakin Satgas dapat membantu LADI berkomunikasi dengan WADA agar sanksi untuk Indonesia dapat dicabut.

“Sanksi larangan mengibarkan bendera Merah Putih sudah terjadi dan membuat dunia olahraga kita heboh. Namun, hal penting dan terutama yang harus kita lakukan saat ini adalah membantu memecahkan semua persoalan. Olahraga dan atlet Indonesia tak boleh menjadi korban. Perjuangan atlet dan pelatih dalam mengharumkan nama Indonesia jangan sampai menjadi korban karena sanksi yang mengganggu proses kebanggaan atas hasil yang dicapai,” kata Yeyen.

Dukungan untuk Satgas juga datang dari Ketua Asosiasi Profesor Keolahragaan Indonesia (Apkori) Djoko Pekik Iriawanto.

“Saran saya, agar LADI segera berkomunikasi intensif dengan WADA, kalau perlu datang langsung ke kantornya di Kanada agar kita tahu solusi apa yang harus dilakukan,” tutur Djoko.

WADA menjatuhkan sanksi berupa larangan pengibaran bendera negara, dalam hal ini Merah Putih, kepada Indonesia yang dinilai tidak patuh dalam pemberian sampel doping.

Hukuman tersebut sudah diterapkan di turnamen bulu tangkis beregu putra, Thomas Cup 2020. Indonesia yang menjuarai kompetisi itu terpaksa menghadiri seremoni kemenangan tanpa Merah Putih. Kala itu,

(Antara)

(Dede Eka Nurdiansyah)