Jakarta, Aktual.co — Nilai tukar Euro terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) jatuh ke level terendah selama 12 tahun terakhir, pasca Bank Sentral Eropa (ECB) memulai program pembelian obligasi pemerintah. Euro jatuh pada level USD1.0560, dan banyak pihak berharap agar Euro segera bernilai sama atau sebanding dengan Dolar AS.

Pasar mulai bereaksi terhadap putaran terakhir ‘quantitative easing’ (QE atau pembelian aset) oleh ECB dengan menjual Euro dan membeli mata uang lain seperti Dolar AS. Karena menurut mereka, mata uang AS dinilai lebih menarik karena Federal Reserve (The Fed) tampak telah menyelesaikan program pembelian obligasi.

Euro mulai tergeser terhadap Dolar AS sejak Juli tahun lalu, setelah pasar bereaksi terhadap perbedaan kebijakan antara ECB dan The Fed. Euro jatuh 22,4 persen terhadap Dolar AS, saat itu Euro bernilai USD1,37.

Sebuah survei menunjukkan, bahwa data pekerjaan AS yang positif pada Jumat lalu memberikan dorongan tambahan terhadap penguatan Dolar AS.

“Ini membuka spekulasi bahwa AS akan menaikkan suku bunga pada bulan Juni,” ujar ahli strategi mata uang senior dari Rabobank, Jane Foley seperti dilansir BBCBusiness, Kamis (12/3).

Selain itu, pelemahan ekonomi di Zona Euro seperti di Yunani terus memberikan tekanan terhadap Euro.

“Momentum ini tentunya memberikan pengaruh mengenai paritas Dolar AS,” tandasnya.

Artikel ini ditulis oleh: