Jubir Jokowi - Ma'ruf, Arya Sinulingga dan Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia Erik Somba saat menjadi pembicara dalam diskusi Kampanye Asik, Damai dan Anti Hoax di Jakarta, Sabtu (22/9/2018). Pemilu 2019 diprediksi masih akan diwarnai dengan penyebaran berita bohong atau hoax di media sosial. Polri mendeteksi, hingga kini sedikitnya ada 3.500 konten hoax yang tersebar di media sosial. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, Aktual.com – Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI), Yusri Usman mengatakan sikap Staf Khusus (Stafsus) Menteri BUMN, Arya Sinulingga terkesan lancang karena telah mengingatkan Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok agar tidak merasa menjadi direktur utama.

“Karena pernyatan Arya itu adalah sikap salah kaprah alias gagal paham, malah seolah mencoba mengaburkan yang sudah jelas di bawah matahari,” kata Yusri dalam keterangan tertulisnya yang diterima redaksi Aktual.com, Jakarta, Selasa (30/11).

Yusri meminta agar Arya terlebih dulu membaca UU BUMN sebelum bicara ke media. Selain itu, ia juga menegaskan bahwa bukan kapasitas Arya mengomentari sikap Ahok sebagai Komisaris Utama Pertamina.

“Arya harusnya baca dulu, walau mungkin gak paham bunyi pasal 31 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tentang tugas seorang komisaris BUMN, yakni mengawasi direksi dalam menjalankan kepengurusan persero, serta memberikan nasihat kepada direksi,” tegasnya.

Menurut Yusri, dari hasil pengawasannya Ahok selaku komisaris memang berhak dan sudah sepatutnya bicara atau bahkan melaporkan kepada publik atau penegak hukum jika mencurigai adanya praktek-pratek yang merugikan Pertamina.

“Bukankah Pertamina itu BUMN yang berarti milik negara dan merupakan perusahaan dari dan untuk kepentingan sebesar-besarnya rakyat Indonesia?,” ujarnya.

Yusri pun menuding jika pernyataan Arya Sinulingga yang terkesan menyerang Ahok diduga merupakan pesanan dari pihak yang terganggu dengan komentar mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

Untuk diketahui, Ahok dalam akun Youtube-nya “Panggil Saya BTP” baru-baru ini menyatakan dengan tegas ketidaksetujuannya atas rencana BUMN Indonesia Battery Corporation (IBC) akan mengakuisi perusahan mobil listrik di Jerman, Street Scooter.

Ahok menyatakan kepada direksi PT Pertamina Power Indonesia sebagai pemegang saham 25 % IBC, supaya berhati-hati dalam membeli perusahaan untuk bisnis baru dengan menggunakan dana yang cukup besar.

Diketahui, bahwa Mining Industry Indonesia (MIND ID), bersama PT PLN (Persero), PT Pertamina Power Indonesia dan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk merupakan pemilik saham masing masing 25 % di holding IBC.

“Dengan demikian, serangan Arya Sinulingga ke Ahok di berbagai media cetak dan online, itu bagi publik mengesankan upaya pasang badan untuk menjilat sekaligus menyelamatkan muka Erick Tohir sebagai penggagas akuisisi pabrik mobil listrik Jerman Street Scooter itu,” ungkap Yusri.

Sebelumnya, Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga meminta agar mantan Gubernur DKI Jakarta itu tidak berbicara yang bukan kapasitasnya sebagai komisaris utama PT Pertamina (Persero).

Mantan Juru Bicara Kampanye Jokowi-Ma’ruf itu menyebut sikap Ahok yang merasa seperti direktur utama dinilai tidak elok.

“Jangan sampai Pak Ahok ini di Pertamina juga menjadi komisaris merasa direktur gitu. Komut merasa dirut itu jangan, harus tahu batasan-batasannya,” tuturnya kepada awak media, Senin (29/11) kemarin.

(A. Hilmi)