ilustrasi
ilustrasi

​​​​​​​Bukittinggi, aktual.com – Seorang warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Bukittinggi, Sumatera Barat, Rudianto memilih masuk Islam setelah melihat pembawaan tenang rekannya setiap usai menunaikan salat.

“Setiap kali melihat rekan-rekan sesama warga binaan usai salat, mereka terlihat tenang. Saya jadi ingin menunaikannya dan merasakan ketenangan juga,” katanya di Bukittinggi, Senin.

Ia mengaku selama ini hidup seperti tanpa memiliki tujuan, dengan menganut agama itu ia berharap bisa menata dan memiliki tujuan hidup.

Rekan-rekannya yang beragama Islam, menurutnya juga tampak memiliki persaudaraan kuat meski tidak memiliki hubungan kekerabatan.

Ia mengatakan berpindah agama tanpa paksaan dari siapapun. Sebelumnya ia kerap berkomunikasi dengan dua saudaranya yang sudah lebih dulu menjadi mualaf.

Saat Rudianto membaca kalimat syahadat sebagai tanda masuk Islam menarik perhatian sejumlah warga binaan sehingga ikut datang ke mushala Lapas untuk menyaksikan.

Setelah masuk Islam, ia kemudian dipanggil dengan nama Ilham. Sebelum membaca kalimat syahadat, ia telah menjalani khitan di salah satu rumah sakit di Bukittinggi pada Senin ini.

Kalapas Kelas II A Bukittinggi Marten mengatakan Rudianto merupakan narapidana kasus penyalahgunaan narkoba dengan masa tahanan tujuh tahun.

“Saat ini ia masih harus menjalani sisa masa tahanan empat tahun, tiga bulan, empat hari,” katanya.

Ia menerangkan kegiatan keagamaan merupakan aktivitas yang diharuskan dilakukan oleh para warga binaan. Pihak Lapas bahkan membuat presensi untuk warga binaan yang menunaikan shalat di mushala Lapas.

“Misalnya untuk menunaikan shalat bagi muslim, mesti dipaksakan dulu sehingga kami terapkan presensi, agar perlahan menumbuhkan kesadaran bahwa shalat tidak hanya jadi kewajiban namun termasuk jadi kebutuhan,” katanya.

Karena kondisi itu, menurutnya mungkin saja menjadi pendorong salah seorang warga binaan di Lapas memilih masuk Islam.

“Harapan kami selanjutnya dia mau terus belajar dan menunaikan kewajiban barunya sebagai muslim dengan ikhlas,” katanya.

(Eko Priyanto)