Surabaya, Aktual.com —  Puluhan mahasiswa Muhammadiyah menggelar aksi seribu lilin diatas spanduk bergambar pita simbol AIDS di dalam gedung aula kampus.

Hal ini dilakukan karena minimnya penjelasan tentang HIV yang berdampak pada diskriminasi sosial terhadap pangidap HIV/AIDS.

“Awalnya memang banyak yang menjauhi saya. Saya sempat prustasi. Tapi akhirnya saya bisa bangkit dan bisa memahami tentang lingkungan yang takut dengan keberadaan saya,” ucap waria pengidap AIDS, Jinal, Selasa (1/12).

Bahkan, kebangkitan Jinal pun mampu merubah kehidupan rekan-rekan yang terkena HIV AIDS, hingga pada akhirnya Jinal menjadi konseling AIDS di rumah sakit Dr Sutomo.

” Hidup di dunia itu apapun harus menerima resiko,” lanjutnya.

Dirinya juga berpesan agar penderita jangan mudah stres, dan tidak hidup menyendiri. Diakuinya, sejak divonis mengidap HIV pada tahun 2000, dia sempat hidup menyendiri. Tetapi, setelah berkonsultasi dengan dokter sedikit demi sedikit bisa merubah kebiasaan hidupnya.

“Saya masih ingat waktu pertama kali membuka warung. Mereka bilang k orang orang, Jangan beli makanan di warungnya orang banci. Bisa kena AIDS,” ungkapnya.

Sementara, Dosen Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya, Yuanita Wulandari mengaku sengaja menggelar aksi ini untuk mengedukasi masyarakat bahwa penderita AIDS bisa hidup di tengah-tengah masyarakat.

“Hasil survey saya, ternyata ada seorang ibu yang menderita AIDS, tetapi anak-anaknya yang tinggal serumah tidak tertular,” ujarnya.

Orang hidup dengan HIV, lanjutnya, adalah orang yang masih memiliki harapan hidup dan bisa diterima di masyarakat.

“Untuk itu kami sebagai akademisi membentuk kader dengan nama aku bangga aku bermakna. Wujud sebagai kepedulia kita terhadap penderita AIDS,” tutupnya.

()