Di tengah meningkatnya tekanan militer dari Amerika Serikat di kawasan Teluk, Iran justru menunjukkan sikap sebaliknya, bersiap, menguat, dan menegaskan bahwa setiap ancaman akan dibalas tanpa kompromi. Teheran menyampaikan pesan lugas bahwa kedaulatan bukan untuk ditawar, apalagi dirampas.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan bahwa setiap upaya untuk mengganggu wilayah negaranya akan berujung pada serangan balasan yang terukur dan berkelanjutan. “Pasukan Iran memantau pergerakan musuh, dan jika mereka mengambil langkah apa pun, kami akan menyerang infrastruktur vital di negara regional tersebut dengan serangan terus-menerus dan tanpa henti,” tegasnya dikutip dari Aljazzera, Kamis (26/3/2026).
Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Namun muncul di tengah laporan intelijen yang menyebut adanya rencana “musuh-musuh Iran” untuk menduduki salah satu pulau strategis di wilayah Iran, termasuk Pulau Kharg, jantung ekspor minyak negara tersebut. Bagi Teheran, ini bukan hanya ancaman militer, tetapi juga serangan terhadap urat nadi ekonomi nasional.
Sementara itu, Washington terus memainkan dua wajah, berbicara soal perdamaian, namun di saat yang sama mengirim ribuan pasukan tambahan ke kawasan. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, bahkan melontarkan ancaman terbuka terhadap Iran.
“Jika Iran gagal menerima realitas situasi saat ini, jika mereka gagal memahami bahwa mereka telah dikalahkan secara militer dan akan terus dikalahkan, Presiden Trump akan memastikan mereka dihantam lebih keras daripada yang pernah mereka alami sebelumnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Presiden Trump tidak main-main, dan dia siap untuk melepaskan malapetaka.”
Namun di dalam negeri, respons Iran justru menunjukkan keteguhan yang berbeda. Laporan dari lapangan menyebut masyarakat Iran memahami eskalasi ini sebagai bagian dari konflik yang belum akan berakhir dalam waktu dekat. Mereka, menurut laporan, tidak gentar dan justru bersiap.
“Jadi saat ini, mereka jauh lebih yakin akan berlanjutnya perang ini daripada berakhirnya, dan mereka mengatakan sedang mempersiapkannya,” ujar jurnalis Al Jazeera yang melaporkan dari Teheran.
Pulau Kharg menjadi simbol penting dalam ketegangan ini. Letaknya yang dekat dengan daratan Iran menjadikannya titik strategis sekaligus rentan. Namun justru di situlah Iran melihat peluang. Jika serangan benar-benar terjadi, dampaknya diyakini tidak hanya akan dirasakan oleh pasukan AS, tetapi juga negara-negara yang terlibat.
“Selama beberapa hari terakhir, warga Iran mengatakan bahwa mereka yakin jika ini terjadi, hal itu akan sangat merusak negara tersebut, Uni Emirat Arab, dan juga pasukan AS,” demikian laporan dari lapangan.
Tak berhenti di situ, Iran juga membuka kemungkinan memperluas medan konflik. Sumber militer yang dikutip kantor berita Tasnim menyebut, Iran memiliki kemampuan untuk menciptakan tekanan strategis di Selat Bab al-Mandeb, yang merupakan jalur pelayaran vital dunia. Bahkan, sekutu Iran di Yaman disebut siap bergerak jika situasi memanas.
Artikel ini ditulis oleh:
Andry Haryanto

















