Jakarta, Aktual.co — Ahli kesehatan dari PT Biotech Farma mengungkapkan, penanganan kasus cedera atlet Indonesia, kerap terlambat. Hal ini karena, sebagian besar rumah sakit di Indonesia belum memiliki alat radiologi canggih, sehingga penganalisaan data tidak dapat dilakukan seketika setelah suatu kejadian.

“Sebagian besar rumah sakit masih menggunakan alat lama yang sudah kuno sehingga hasil dari foto sinar-x baru bisa diketahui pada keesokan harinya. Jelas ini lambat sekali bagi penanganan seorang atlet,” katanya yang dijumpai di pameran “Expo Hospital 2014” di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (16/10).

Ia mengemukakan, sebagian besar rumah sakit mencetak hasil foto x-ray dalam bentuk lembar plastik hitam putih, sehingga membutuhkan waktu sekitar satu hari untuk memproses di kamar gelap.

Peralatan yang terbilang mahal, yakni mencapai sekitar Rp3 miliar, membuat kasus cedera atlet yang relatif parah terpaksa harus ditangani di luar negeri.

“Di negara maju, cara seperti ini sudah diperkenankan lagi, karena mencetak dianggap tidak ramah lingkungan. Jadi cara yang digunakan hanya mengirimkan hasil gambar foto sinar-x ke surat elektronik ke dokter,” ujar dia.

Menurutnya, alat radiologi berteknologi tinggi ini menjadi kebutuhan utama dokter olahraga di negara maju dalam menunjang tanggung jawabnya sebagai pemberi izin atlet untuk tetap bertanding atau sebaliknya.

Keadaan di negara Eropa ini, menurut pengamat olahraga Rossy Nurasjati, berbeda dengan di Indonesia.

“Di luar negeri, yang menentukan atlet bisa bertanding atau tidak itu adalah dokter. Sementara di Indonesia justru pelatih dan atletnya sendiri, ini yang memprihatinkan,” kata kandidat gelar doktor olahraga ini.

Ia mencontohkan kejadian yang dialami karateka nasional Umar Syarif.

“Mana ada atlet di dunia ini menjalani operasi hingga delapan kali di tempat yang sama (di lutut, red). Selama ini apa yang terjadi, jika Umar cedera maka yang dilakukan langsung dibalut, bukan tanya dokter,” ujar dia.

Penanganan kasus cedera atlet di Indonesia kerap sembarangan sehingga berdampak pada kesehatan untuk jangka waktu yang panjang.

Ia mengharapkan pemerintah mendatang memiliki terobosan dalam membenahi sistem olahraga nasional yang gagal mempertahankan prestasi nasional.

“Bukan hanya dari cara menjaga atlet ketika mengalami cedera tapi semua komponen yang berkaitan dalam sistem olahraga nasional harus dibenahi seperti organisasinya, anggarannya, hingga sistem pelatnas,” kata peraih medali emas Kejuraan Asia Karate tahun 1995 dan 1997 ini.

()

()