Jakarta, Aktual.co — Serangan udara yang dilakukan oleh militer Yordania ke basis pertahananankelompok teroris yang menamakan diri Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), padaJumat (6/2) siang, dikabarkan menewaskan tawanan perempuan asal AmerikaSerikat. Informasi ini masih simpang siur, karena kabar kematian tawanan ituhanya dirilis oleh ISIS, seperti yang dikutip Kompas.com.
Dalam sebuah pernyataan di internet, ISIS mengatakan perempuan AS ituterkubur reruntuhan bangunan akibat serangan yang dilancarkan ke kota Raqa.ISIS hanya memperlihatkan sebuah gambar reruntuhan bangunan, tanpamemperlihatkan jenazah korban.
Mengutip Washington Post, Sabtu (7/2), perempuan AS yangditawan itu diidentifikasi oleh ISIS sebagai Kayla Jean Mueller. Perempuan asalPrescott, Arizona, itu merupakan pekerja kemanusiaan asal AS yang bekerja untuklembaga Support to Life dan masuk ke Suriah pada akhir 2012. Mueller diperkirakandiculik ISIS pada 4 Agustus 2013 di kota Aleppo, usai bekerja di sebuah rumahsakit yang dikelola lembaga Doctors Without Borders asal Spanyol.
Derita pengungsi
Sebuah media lokal di Arizona, Daily Courier, pernah menulis profilKayla Mueller. Ketika itu, perempuan berusia 26 tahun itu mengaku hatinuraninya makin tersentak dengan penderitaan masyarakat Suriah ketika menjadirelawan di kamp pengungsian warga Suriah di Turki.
Kayla mengenang hal yang menjadi titik balik dalam hidupnya berawal ketikamembantu seorang pria Suriah menemukan dua anak perempuannya yang berusia 6tahun di pengungsian tempatnya bekerja. Pria Suriah itu mengaku telahkehilangan istrinya yang tewas di Suriah, tapi dia belum juga bisa menemukananak laki-laki dan anak perempuannya yang berusia 11 tahun, yang masih hilangsaat berusaha kabur dari Suriah.
Beruntung, pria itu kemudian menemukan anak perempuannya yang berusia 11tahun itu, yang baru saja menyelesaikan operasi di sebuah rumah sakit di Turki.Tapi, pria Suriah itu tetap merindukan anak laki-lakinya. Kepada Kayla, priaitu pun memperlihatkan foto anak laki-lakinya yang hilang.
“Ini bukan kisah yang asing di Suriah. Ini adalah realita untukmasyarakat Suriah selama dua tahun terakhir,” ucap Mueller kepada DailyCourier, dalam sebuah acara amal saat pulang ke kampung halamannya diPrescott, Arizona pada 31 Mei 2013. “Saat para warga Suriah itu tahu sayaorang Amerika, mereka bertanya. ‘Di mana (tindakan) masyarakat dunia?’ Saat itusaya hanya bisa menangis, karena saya memang tidak tahu,” ucap KaylaMueller.
Kayla pun semakin larut dalam kesedihan yang dimiliki pengungsi Suriah,sehingga dia merasa yang dilakukannya tak pernah cukup. Setiap hari, Kaylamendengar cerita tentang anak-anak yang terluka akibat bom, perempuan yangdipaksa menikah di usia sangat muda, dan anak-anak yang dipaksa untuk salingbunuh oleh pihak yang bertempur. Anak-anak tentu saja juga tak bisa sekolahkarena tempat mereka belajar itu menjadi sasaran bom. “Selama saya hidup, saya tidak akan membiarkan penderitaan ini dianggapnormal, dianggap hal yang bisa kita terima,” ucap Kayla.
Fokuskan anak-anak
Karena sadar kemampuannya terbatas, Kayla Mueller pun membantu dari halterkecil yang bisa dilakukan. Misalnya, dia mengajak anak-anak untuk bersenang-senangdengan menggambar, melukis dan bermain. Salah satu kegiatan yang tidak akan dilupakannya adalah saat para bocahSuriah itu diminta untuk menggambar tempat yang dianggap paling nyaman, palingmenyenangkan, paling diinginkan. Ternyata, anak-anak itu mengaku menggambarrumah sendiri, rumah yang sudah ditinggalkan dan mungkin kini sudah rata dengantanah. “Mereka bercerita apa saja tentang rumahnya. Mereka bilang, ‘Ada pohondi depan rumah yang biasa dipanjat’. Atau, ‘Ada pintu berdecit karena tidak pernahdiperbaiki ayah’,” tuturnya.
Ironi
Mengutip Mashable, keluarga menyebut Kayla sudah mengabdikankehidupannya untuk membantu orang lain di negara mana pun yang membutuhkan.Karena itu ketika lulus dari Universitas Arizona pada tahun 2009, jenjang karirbukan dianggapnya sebagai pilihan hidup yang dipertimbangkan.
Bahkan, Kayla pernah membuat video yang diunggah di YouTube, sebagai bagiandari solidaritas media sosial dalam proyek bernama “Syria Sit In”.Dalam video yang diunggah pada 2 Oktober 2011 itu, Kayla mengutuk kekerasanyang terjadi di Suriah. Saat itu, Kayla juga terang-terangan menuduh PemerintahSuriah di bawah pimpinan Bashar al-Assad sebagai pihak yang paling bertanggungjawa.
“Saya dalam solidaritas dengan masyarakat Suriah. Saya menolak brutalitasdan pembunuhan yang dilakukan otoritas Suriah kepada rakyatnya,” ucapMueller dalam video itu. “Karena diam berarti ikut berpartisipasi dalamkejahatan itu, saya mendeklarasikan partisipasi saya dalam ‘Syrian Sit In’ diYouTube,” lanjutnya.
Ironisnya, nasib Kayla Mueller kini masih tidak jelas setelah ditawan olehISIS, kelompok yang juga memerangi Bashar al-Assad. Nasib Kayla belum diketahuisejak diculik ISIS di Aleppo pada 4 Agustus 2014. Pemerintah AS sendiri masihenggan memberikan komentar dan belum bisa memastikan tewasnya Kayla Mueller.
“Saya masih belum bisa memberikan konfirmasi apa pun. Saya tidak akanmemberikan informasi spesifik mengenai tawanan AS di luar negeri,” ujarjuru bicara Kementerian Luar Negeri AS, Marie Harf.

















