Mantan Ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudi Latif foto bersama As Sayyid Assyarif AsSyekh Dr. Muhammad Fadhil Al Jilani Al Hasani Al Huseini saat acara Halal Bil Halal keluarga Zawiyah Arraudhah di Zawiyah wa Ma'had Arraudhah, Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (1/7/2018). AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, Aktual.com – Setiap kali sayap rohaniku berhasrat melesat dari jerat duniawi, selalu saja ada urusan tertunda yang menjadi gaya gravitasi.

Jadilah aku tersandera di keruwetan labirin persoalan. Setiap satu pintu terbuka, masih ada pintu lain yang menghadang. Bagaimana bisa kulepaskan rohaniku dari jebakan kemelekatan?

Seseorang tak bisa meninggikan rohaninya dengan melarikan diri dari tanggung jawab kehidupan. Terperangkap dalam keduniawiaan juga bisa mematahkan sayap-sayap kerohaniaan.

Jalan pembebasan rohaniku harus bisa berselancar di atas gelombang samudera persoalan tanpa tenggelam di dalamnya. Kemerdekaan rohani harus diraih dengan tetap terlibat dalam dunia tanpa perlu melekat.

Nirwana makrifatku tak perlu dikejar di ketiggian langit di kejauhan kenantian; bisa dialami di kerendahan lumpur di kedekatan kekinian.

Berjuang dengan tawakal; berikhtiar seraya berserah diri, itulah jalan pembebasan rohani. Pada setiap dahan yang patah, ada tunas yang tumbuh. Pada setiap helai daun yang jatuh, ada bahan pupuk bagi kesuburan.

Apa yang melukai seseorang akan merahmatinya. Dalam berjuang manusia bermakna, dalam bermakna kerohanian meninggi. Dengan rohani yang meninggi, derajat insan kamil bisa didekati. Itulah jalan spiritual sejati.

(Yudi Latif, Belajar Merunduk)

(Andy Abdul Hamid)