Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Harvick Hasnul Qolbi saat meninjau lahan hortikultura di Penajam Paser Utara (PPU). Foto: AKTUAL/istimewa
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Harvick Hasnul Qolbi saat meninjau lahan hortikultura di Penajam Paser Utara (PPU). Foto: AKTUAL/istimewa

Brebes, Aktual.com – Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat kebutuhan bawang merah nasional mencapai 1,18 juta ton setiap tahunnya. Konsumsi bawang merah dipastikan meningkat pada saat Hari Besar Keagamaan dan Libur Nasional.

Meski demikian, produksi bawang merah nasional yang mencapai sekitar 2 juta ton per tahun cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri bahkan untuk ekspor.

Kabupaten Brebes sebagai salah satu daerah penghasil bawang merah menyumbang lebih dari 30 persen produksi nasional. Bawang merah asal Brebes bahkan mendominasi pasokan di Jabodetabek dan kota-kota besar di seluruh Indonesia.

Salah seorang petani bawang merah asal Brebes yang juga Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) Ikhwan Arief menuturkan bahwa para petani di sana rata-rata tidak banyak yang menyimpan dalam bentuk stok gudang.

“Paling kalaupun ada gak lebih dari 8 ton. Lebih banyak stok berjalan berupa pertanaman siap panen yang sudah terjadwal,” kata Ikhwan.

“Jadi selesai panen, dikeringkan sebentar, dirogol, langsung dipasarkan. Bisa menghemat biaya simpan maupun beban risiko penyusutan,” tambahnya.

Ikhwan menjelaskan, jangkauan pemasaran bawang merah dari petani yang tergabung dalam kelompok binaannya tersebut bahkan bisa tembus ke Kupang, Ternate, Banjarmasin, Pontianak, Batam hingga sampai Papua.

“Stok tanaman kelompok kami rata-rata 2-5 hektar per minggu yang tersebar di wilayah Gebang Cirebon, Brebes, Demak dan Majalengka. Sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan Natal dan Tahun Baru,” ujar dia.

Seorang petani lainnya, Willy Agusman, saat dikonfirmasi, menyebut saat perayaan hari besar nasional hampir selalu diwarnai kenaikan harga meski tidak selalu signifikan.

“Perubahan harga hampir selalu ada setiap menjelang hari raya sekitar Rp 2.000,- sampai Rp 5.000,- per kilogram. Itu wajar saja. Masyarakat sepertinya cenderung lebih konsumtif pada hari libur. Mungkin merayakan bersama keluarga. Wajar kalau harga sedikit naik,” ungkap Willy yang juga pedagang bawang merah asal Cirebon.

Menurutnya, hari libur yang paling banyak diantisipasi oleh para pedagang bawang merah biasanya Nataru, Idul fitri dan Idul adha.

“Pada momen-momen tersebut, kami selalu siapkan bawang lebih banyak dari hari-hari biasa,” tukas Willy.

Dihubungi terpisah, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Harvick Hasnul Qolbi mengatakan Kementerian Pertanian senantiasa mendorong peningkatan produksi dan produktivitas pertanian.

Hal ini tidak hanya untuk menghadapi hari-hari besar keagamaan dan libur nasional, tetapi juga untuk mendorong ketahanan pangan menuju kedaulatan pangan nasional.

“Berbagai program yang dicanangkan Kementan, semua bermuara pada peningkatan produksi pangan. Ini semua demi mewujudkan ketahanan pangan menuju kedaulatan pangan, serta mengantisipasi permintaan saat Hari Besar Keagamaan dan Libur Nasional, seperti Nataru 2023 saat ini,” kata Wamentan Harvick.

(A. Hilmi)