Syekh Yusri menambahkan, bahwa yang dimaksud dengan al bir (kebaikan) pada hadits di atas adalah merupakan kata yang kompleks, yaitu segala sesuatu yang membuat Allah Swt ridha, baik ucapan, perbuatan ataupun keyakinan.

Bagi orang yang membiasakan diri untuk jujur, maka kejujuran itu akan menjadi watak bagi dirinya, sehingga ia tidak pernah bisa untuk berbohong.

​Berbohong menurut ulama fikih berarti berkata sesuatu yang bertentangan dengan keyakinannya.
Sedangkan ulama mantiq (logic) mendefinisikan bahwa kebohongan adalah sesuatu yang bertentangan dengan realita.

“Allah Ta’ala menilai seseorang sesuai dengan keyakinannya terhadap sesuatu, bukan yang sesuai dengan hakekat dari pada sesuatu tersebut “, pungkas Syekh Yusri. Wallahu a’lam.

Laporan: Abdullah Alyusriy

(Abdul Hamid)