Kerjasama Energi dan Minyak Antara Indonesia - Iran/Oman (Aktual/Ilst.Nelson)

Jakarta, Aktual.com — Menteri ESDM Sudirman Said mengungkapkan Indonesia dan Iran berupaya mengkonkretkan kerja sama bidang energi yang sudah dimulai sejak beberapa waktu lalu.

“Saya tadi lapor ke Presiden karena baru pulang dari Iran,” kata Sudirman Said di Jakarta, Senin (19/10).

Ia menyebutkan kunjungan itu merupakan yang kedua kalinya, sementara pertemuan dengan Menteri Minyak Iran merupakan yang ketiga kalinya.

“Semakin sering kita bertemu, semakin konkret kita ingin merealisasikan kesempatan investasi maupun kerja sama energi di antara kedua negara,” katanya.

Ia menyebutkan di bidang migas, Pertamina bersama dengan perusahaan Iran sedang duduk bersama untuk terus menerus mendetilkan Pertamina butuh apa, mereka bisa suplai apa, dan kerja sama apa yang bisa dilakukan, termasuk beberapa poin pembangunan kilang, kemudian suplai minyak mentah, LPG dan sebagainya.

“Kami juga kemarin membawa tim dari Pupuk Indonesia untuk mengevalusi sejauh mana minat mereka melakukan investasi, tetapi karena embargo kemudian menjadi hambatan. Ini akan diaktifkan kembali setelah embargo atau sanksinya selesai,” katanya.

Sudirman menyebutkan yang juga menarik adalah suplai energi hidro mereka besar sekali karena dari 70.000 MW kapasitas terpasang itu, 20.000 MW di antaranya dari hidro.

“Kita akan banyak belajar dari mereka, saya sudah bersepakat dengan Menteri Energi Iran, dan Menteri Perminyakan Iran,” katanya.

Bersama menteri energi itu disepakati kedua negara akan bersama-sama melakukan studi potensi hidro di Indonesia. Potensi hidro Indonesia sangat besar tapi baru pada tingkat digunakan untuk waduk, listriknya masih kecil-kecil skalanya.

“Kepada Presiden Iran saya kemarin menyampaikan ingin partissipasi di hulu, karena hulu mereka cukup kuat, dan nanti kalau kita bisa punya konsensi di sana, saya kira akan sangat baik,” katanya.

Freeport Sementara itu terkait Freeport Indonesia, Sudirman Said mengatakan permintaan pemerintah sudah sering dikemukakan.

“Itu bagian dari yang sedang dibicarakan dan semua sedang didorong untuk direalisasikan misalnya divestasi saham, mereka sudah kirim surat, kita punya waktu 90 hari untuk merespon,” katanya.

Ia menyebutkan Menteri BUMN Rini Soemarno sudah merespon kemungkinan akan diarahkan ke Inalum dan Antam.

“Mereka tentu sedang mempelajari kekuatan finansialnya, neracanya bagaimana,” katanya.

Kemudian tentang melibatkan industri nasional, lanjut dia, 10 BUMN sedang menjajaki kesempatan-kesempatan yang akan diberikan Freeport, mulai dari bahan peledak oleh Pindad dan Dahana, kemudian suplai batu bara, suplai bahan bakar oleh Pertamina, suplai besi baja oleh Krakatau Steel.

“BUMN akan kita dorong dan saya kira dalam waktu dekat mereka akan tanda tangan MoU untuk menjajaki atau mengeksplorasi kesempatannya,” katanya.

Terkait pembangunan Smelter, Sudirman mengatakan rencana itu jalan terus. “Mereka sedang memfinalkan perjanjian apakah dengan Petrokimia atau lokasi lain, karena dua-duanya ada plus minusnya,” katanya.

Mengenai “local community” atau keharusan melibatkan putra daerah, Sudirman mengatakan dirinya mendapat informasi sudah banyak putra-putra Papua yang bekerja pada posisi penting.

“Jadi semua berjalan, dan tidak ada hal yg perlu dikhawatirkan, surat yang saya sampaikan kemarin adalah menegaskan apa yang disampaikan oleh presiden kepada Freeport, kita akan menjaga kelangsungan investasinya dengan tetap menjaga ketaatan kepada UU,” katanya.

Ketika ditanya apakah masalah terkait akan dibahas Presiden dalam kunjungannya ke AS, Sudirman mengatakan tidak ada.

“Kalau dari kedutaan, kita akan bertemu businessman, tapi kan tidak hanya Freeport, banyak perusahaan, semua perusahaan besar yang beroperasi di sini akan cari waktu untuk bertemu Presiden,” katanya.

(Ant)

(Arbie Marwan)