Untuk menikmati wisata edukasi, calon pengunjung mesti mengontak Ridwansyah terlebih dahulu melalui nomor 081363605530 supaya kelompok tani bisa mempersiapkan kebutuhan susu untuk calon peserta.

Biaya hanya dibebankan jika calon pengunjung memesan paket wisata.

Pengunjung yang datang berbelanja ke gerai Permata Ibu lalu ingin melihat-lihat dan berbincang tentang usaha peternakan juga akan dilayani.

“Tapi layanannya tentu beda. Kadang ada yang datang siang hari, kami tentu tidak bisa persilakan jika pengunjung ingin coba beri makan atau memerah susu,” katanya, menambahkan kegiatan pemberian pakan dan pemerahan biasa dilakukan dua kali sehari pada pagi dan sore hari.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pangan dan Pertanian Padang Panjang Wahidin Beruh menyebutkan pada 2017 tercatat ada 2.000 lebih pengunjung yang menikmati wisata edukasi di peternakan sapi perah Padang Panjang.

Pengunjung menjadikan area usaha kelompok Permata Ibu, Rearing Unit milik pemerintah daerah setempat, serta kelompok peternak seperti Lembu Alam Serambi, Tunas Baru, Yuza, Serambi Karya Mandiri dan Lembah Makmur Hijau sebagai tujuan wisata.

Para penikmat wisata edukasi itu di antaranya berasal dari Bukittinggi, Padang Pariaman, Solok dan daerah luar Sumatera Barat seperti Jambi, Riau, Jawa Barat hingga Kalimantan Barat.

Berkoperasi Usaha peternakan sapi perah sudah berjalan di Padang Panjang sejak 1981.

Setelah bertahun-tahun para peternak bekerja sendiri-sendiri dalam usaha tersebut, pada September 2017 Ridwansyah berusaha mengorganisasi kelompok peternak dengan membentuk Koperasi Peternak Sapi Perah Merapi Singgalang (KPSP Mersi).

Dalam wadah koperasi itu, para peternak saling berbagi pengalaman usaha dan solusi masalah peternakan sapi perah.

Mereka kemudian memproduksi susu yang diberi merek Serambi Milk dan bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat untuk meningkatkan penjualan lewat program makanan tambahan bagi anak TK dan SD.

Dengan berkoperasi, Ridwansyah mengatakan, para peternak juga menjadi lebih mudah mengakses bantuan untuk mengembangkan usaha, termasuk bantuan dana dari Bank Indonesia untuk membangun Unit Pengolahan Susu (UPS).

“Bantuan tersebut adalah hal yang paling kami butuhkan. Sebelumnya kami belum punya tempat untuk mengolah susu yang sesuai standar sehingga kesulitan mengurus izin BPOM, padahal ini penting sebagai jaminan keamanan bagi konsumen,” katanya.

Kelompok peternak itu juga mendapat bantuan dari Fonterra Brands Indonesia pada Mei 2018. Bantuan itu berjangka tiga tahun, dengan bantuan tahun pertama mencakup peningkatan kualitas produksi, pembinaan standar operasional prosedur pemerahan dan peralatan untuk menjaga kualitas susu tetap baik.

“September lalu pihak Fonterra sudah uji kualitas susu yang dihasilkan dan dinyatakan berkualitas baik,” katanya.

Berharap dari wisata Wahidin menerangkan Padang Panjang memiliki 289 sapi, dan dari jumlah itu ada 115 yang menghasilkan susu.

Setiap hari produksi susu sapi Padang Panjang sekitar 1.312 liter, lebih rendah dibanding pada awal 2018 ketika produksi susu ada di kisaran 1.400 sampai 1.800 liter per hari dari 341 sapi.

(Novrizal Sikumbang)