Jakarta, aktual.com – Kualitas guru di Indonesia masih rendah dan juga belum merata. Hal ini menjadi tantangan untuk mencetak generasi unggul sesuai tuntutan revolusi industri 4.0 karena mereka adalah garda terdepan pencetak SDM berkualitas.

Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Muhammad Ramli Rahim beberapa waktu lalu mengakui, jika kualitas guru di Indonesia masih di bawah standar. Dalam uji kompetensi guru pada 2015 misalnya, mendapati hasil masih di bawah standar kompetensi minimal (SKM).

“Rata-rata memiliki nilai 53 atau dua poin di bawah SKM. Hasil siswa kita masih tertinggal. Misal, matematika kita 73 persen bermasalah,” ujarnya.

Dari sisi cara menyajikan pelajaran atau metode pembelajaran, mayoritas guru di Indonesia belum cakap untuk menyesuaikan dengan zaman. “Mereka hanya sebatas mengajar dan itu merupakan cara lama yang sudah tidak cocok dengan zaman,” lanjutnya.

Salah satu upaya meningkatkan kualitas guru adalah dengan melakukan pemberdayaan guru secara berkesinambungan. Hal ini yang juga dilakukan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Aceh bersama Fatih Bilingual School bekerjasama dengan Teuku Nyak Arif Bilingual School.

Mereka menggelar Fatih Development of Teacher Proficiency (FDTP) dengan tema “Improving the Quality of Education,Where to Start?” sebagai upaya untuk membantu pengembangan diri bagi guru dan pendidik yang berkecimpung di dunia pendidikan.

“Ini merupakan program pengembangan kinerja mengajar untuk para guru, pemimpin sekolah, mahasiswa, akademisi dan pengamat pendidikan se-Provinsi Aceh,” kata Nurhadi Hafman, GM Fatih Bilingual School dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (5/1).

Tujuan dari program ini adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan dan membagikan pengalaman mengenai teknik dan cara mengajar yang efisien dan sesuai dengan perkembangan zaman.

Dijelaskannya, kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 2 – 4 Januari 2020 dan dibuka oleh Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman di Aula Kampus Fatih Bilingual School diikuti oleh 204 peserta dari 14 kota dan kabupaten . Ada 3 keynote speaker, 28 pembicara dan 44 topik untuk sesi workshop atau breakout session.

Program ini diisi tema menarik dari berbagai Keynote Speakers ternama yang membahas tentang reflective skill. “Ini merupakan kemampuan dasar yang sangat diperlukan dalam meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah. Semuanya gratis tanpa dipungut biaya,” ungkapnya.

Beberapa pembicara yang hadir diantaranya, Dian Indah Apriyani Senior Country Manager of Indonesia, Prof. Dr. Setiono Sugiharto , Graduate School of Applied English Linguistics, Universitas Atma Jaya, dan Indra Charismiadji Education Consultant, 21st Century Learning Expert.

“Kegiatan ini juga diadakannya breakout session dimana para peserta dapat memilih berbagai topik spesifik sesuai minat mereka dalam grup peserta yang lebih kecil,” ujarnya.

Pada Breakout Sessions para peserta dapat lebih mendalami ide-ide baru, saling berbagi best practices dan berdiskusi secara lebih detail. Para peserta diberikan pilihan untuk memilih dari total sembilan breakout sessions selama tiga hari. Program ini juga menggunakan dua bahasa yakni Bahasa Indonesia dan Inggris.

Adapun durasi pelatihan dari masing-masing general session dan breakout session adalah 60 menit dengan total durasi pelatihan selama 3 hari yaitu 720 menit bagi setiap peserta. “Semoga ini memberi dampak positif bagi dunia pendidikan,” tuturnya.

(Zaenal Arifin)