Jakarta, Aktual.com – Bank Indonesia (BI) menilai Trump Effect menciptakan ketidakpastian ekonomi global yang meningkatkan tekanan terhadap negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyebut dampak tersebut paling terasa pada pasar keuangan dan perdagangan internasional seiring menguatnya kembali isu tarif Amerika Serikat.

Krisis global kini bergerak lebih cepat dan keras dibandingkan dekade sebelumnya, sehingga membuat risiko ekonomi kian kompleks. Ia menyampaikan bahwa faktor geopolitik dan tekanan pasar menjadi tantangan utama BI dalam merancang kebijakan mitigasi risiko.

“Yang pertama adalah masalah tarif Amerika yang tidak selesai-selesai,” kata Destry menggambarkan kekhawatiran BI terhadap hambatan perdagangan dalam Starting Year Forum 2026 di The St. Regis, Jakarta, Kamis (22/1/2026).

Menurut Destry, eskalasi tarif berisiko menaikkan biaya produksi, memicu kenaikan harga barang, dan menekan kinerja ekspor lintas negara. “Dampaknya itu berlapis, dari perdagangan sampai ke pertumbuhan ekonomi yang akhirnya melambat dan terfragmentasi,” lanjutnya.

Tekanan tersebut semakin besar bagi negara berkembang ketika investor global memilih memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian. Kondisi itu tercermin dari pergerakan pasar keuangan global, di mana indeks saham utama seperti S&P 500 dan Nasdaq melemah, sementara dolar AS tetap menguat.

Di tengah guncangan global, BI tetap memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh pada kisaran 4,7–5,5 persen pada 2025 dengan dukungan permintaan domestik yang terjaga. Ruang pertumbuhan pada 2026, kata Destry, relatif lebih terbuka seiring mulai meningkatnya penyaluran kredit dan inflasi yang masih berada dalam sasaran.

Ia juga menyoroti tingginya utang publik negara maju sebagai faktor yang menahan penurunan suku bunga global dan memperketat kondisi pembiayaan. Situasi tersebut dinilai membatasi aliran modal ke emerging market dalam jangka pendek.

Bank sentral, lanjutnya, menyiapkan bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus menopang ekspansi ekonomi nasional. Ia menegaskan sinergi antara pemerintah, regulator, dan sektor swasta menjadi kunci menjaga kepercayaan pelaku usaha di tengah tekanan global yang berlanjut.

(Nur Aida Nasution)

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi