Jakarta, Aktual.Com-Jajaran kepala intelijen Amerika Serikat (AS) dikabarkan segera bersaksi di Kongres, Kamis 5 Januari, terkait laporan intelejen AS atas dugaan gangguan Rusia pada Pilpres AS November lalu. Presiden AS terpilih Donald Trump terus berkomentar intelijen soal dugaan Moskow berada di balik peretasan komputer Partai Demokrat.
Publik Amerika sendiri merasa yakin berdasarkan bukti-bukti kuat adanya dugaan peretasan saat Komite Angkatan Bersenjata Senat (SASC) menggelar sidang dipimpin oleh kritikus tajam Rusia, John McCain, yang pada Rabu 4 Januari 2017, dan menyebut dugaan Moskow terlibat pada Pilpres AS adalah “tindakan perang”.
Sementara, Direktur Intelijen Nasional (DNI) James Clapper dan Direktur Badan Keamanan Nasional (NSA) Michael Rogers pun dijadwalkan akan bersaksi di tengah hubungan yang merenggang antara Trump dan sejumlah badan intelijen yang nantinya akan dijadikan referensi penting ketika dirinya dilantik menjadi Presiden AS pada 20 Januari mendatang.
Dalam cuitannya di akun twitter pribadinya, diketahui jika Trump mengejek kesimpulan CIA dan FBI, yang didukung oleh Presiden Barack Obama, jika peretas bekerja dibawah perintah Pemerintah Rusia untuk mencuri dokumen Partai Demokrat dari komputer partai dan dibocorkan melalui WikiLeaks, yang bertujuan untuk melemahkan kampanye presiden rival Trump, Hillary Clinton.
Trump pun mencuit pada twitternya: “Pengarahan ‘Intelijen’ pada apa yang disebut ‘peretasan Rusia’ ditunda hingga Jumat, mungkin lebih banyak waktu yang dibutuhkan untuk membuat sebuah kasus. Sungguh aneh!”
Trump pun menambahkan penghinaan dengan mengutip pendiri WikiLeaks, Julian Assange, soal penyingkirannya lantaran temuan beberapa lembaga AS bahwa Rusia berada di balik peretasan.
“Kata Julian Assange ‘anak berusia 14 tahun bisa merestas (email) Podesta’ — mengapa DNC begitu ceroboh?” Trump berkata, mengacu pada ribuan email dan dokumen yang dirampok dari komputer Komite Nasional Demokrat dan kepala kampanye Clinton, John Podesta.
Ejekan Trump kemudian dinilai telah meningkatkan tekanan pada Gedung Putih, CIA, FBI, dan DNI untuk mendukung klaim mereka, bulan lalu, jika Pemerintah Rusia berada di balik peretasan, sengaja membocorkan dokumen melalui WikiLeaks agar pemilu terganggu dan membantu Trump.
Sebelumnya diberitakan Kepala badan intelijen dan Obama telah menuding Presiden Rusia Vladimir Putin. Mereka katakan, tidak ada operasi seperti itu bisa terus berlanjut di Moskow tanpa persetujuan tingkat tinggi.
Pada 29 Desember, diketahui jika Obama telah melakukan pengusiran terhadap 35 Diplomat Rusia yang “beroperasi intelijen,” meletakkan sanksi atas para pejabat Pemerintah Rusia dan intelijen, dan para terduga peretas.
Namun bukti yang dipublikasikan oleh agen intelejen tetap tipis, hingga memungkinkan Trump, yang sudah jelas ingin memperbaiki hubungan sepenuhnya dengan Rusia, untuk menantang kemapanan intelijen AS.
Wall Street Journal (WSJ) melaporkan, Rabu kemarin, jika Trump telah bekerja pada sebuah rencana buat merestrukturisasi Kantor Direktur Intelijen Nasional, yang Trump percaya “telah menjadi bengkak dan dipolitisasi,” WSJ melaporkan, mengutip para pejabat perencanaan.
“Rencana tersebut juga dapat mencakup pembenahan CIA, mengurangi staf kantor pusat, dan meningkatkan penyebaran agen di lapangan,” kata WSJ seperti dilansir AFP, Kamis (5/1/2017).
Trump dijadwalkan akan diberi pengarahan, pada Jumat 6 Januari, oleh kepala CIA, FBI dan DNI soal bukti di balik kesimpulan mereka tentang gangguan pemilu oleh Rusia. Dan versi yang dibuka ke publik dari laporan Gedung Putih mengenai kasus ini diharapkan rilis pekan depan.
Artikel ini ditulis oleh:
Bawaan Situs

















