Jakarta, aktual.com – Rabu (8/5) dini hari nanti saat melawan Barcelona di Anfield dalam leg kedua semifinal Liga Champions, tuan rumah Liverpool berkesempatan membuat pembalikkan paling menakjubkan dalam sejarah Liga Champions. Saat ini Barca unggul 3-0 berkat satu gol Luis Suarez dan dua gol Lionel Messi pada leg pertama di Camp Nou pekan lalu.

Berikut catatan sejarah yang bisa menginspirasi ​Liverpool untuk membalikkan keadaan yang cenderung mustahil terjadi, seperti dikutip dari laman Yahoo, Selasa (7/5).

Real Madrid vs Ajax; 1-4 (2019)
Ajax sudah mengejutkan sejak fase grup dengan menahan seri ​Bayern Muenchen dua kali. Tapi semua orang memalingkan mata saat klub Belanda ini ditekuk ​Real Madrid 2-1 pada leg pertama 16 Besar di Amsterdam.

Faktanya Ajax membalikkan keadaan di Bernabeu ketika Hakim Ziyech menciptakan gol pembuka yang digandakan David Neres sebelum Dusan Tadic menjadi pahlawan Ajax oleh dua gol krusialnya. Satu gol Marco Asensio tak bisa menyelamatkan Real.

Real di ambang lolos setelah menang 4-2 di Bernabeu. Mereka tertinggal lebih dulu oleh gol Ludovic Giuly di kandang Monaco di Stade Louis II. Raul menyamakan kedudukan sehingga Real seolah merasa akan lolos ke semifinal guna menghadapi Chelsea. Tetapi Giuly kembali menciptakan gol sebelum babak pertama berakhir yang diakhiri oleh striker pinjaman dari Madrid, Fernando Morientes.

Manchester United vs Bayern Muenchen; 2-1 (1999)
Ole Gunnar Solskjaer mungkin tengah mengalami masa pahit di Old Trafford saat ini, tetapi nama dia sudah tercatat dalam sejarah Manchester United. Gol Mario Basler seolah akan membawa Bayern juara Liga ​Champions, tetapi impian pupus seketika berkat gol-gol menit terakhir dari dua pemain pengganti United; Solskjaer dan Teddy Sheringham. Untuk pertama kalinya MU mencatat treble yang salah satunya dicetak Solksjaer si pembunuh berwajah bayi.

Deportivo vs Milan; 4-0 (2004)
Nama-nama besar seperti Andrea ​Pirlo, Cafu, Paolo Maldini, dan Kaka berjejer di Milan. Ini lineup impian Milan yang mempersatukan para pemain bintang, tetapi Deportivo telah membuktikan kepada dunia mereka bukan tim yang tidak bisa tumbang.
Walter Pandiani, Juan Carlos Valeron dan Albert Luque mengubah agregat menjadi 4-1 dalam waktu 43 menit setelah pada leg pertama kedua tim seri 1-1. Nasib Milan otomatis berakhir setelah pemain pengganti Gonzalez Fran memanfaatkan kesalahan Gennaro Gattuso sehingga Deportivo pun melenggang ke semifinal untuk menghadapi Porto.

Roma vs Barcelona; 3-0 (2018)
Menang 4-1 di kandangnya membuat La Blaugrana yakin akan mencapai semifinal Eropa, tetapi ambisi tim asuhan Ernesto Valverde ambruk begitu penjamu mereka melancarkan pembalikan paling mengagetkan dalam sejarah turnamen ini.
Edin Dzeko melesakkan sepakan jarak jauh yang tak bisa dihalau Marc-Andre yang kemudian digandakan Daniele de Rossi lewat titik penalti sehingga jantung para pemian Barca berdetak kencanng. Barca tersingkir secara mengenaskan oleh sundulan bek Kostas Manolas.

Barcelona vs PSG; 6-1 (2017)
Ini adalah pembalikan terbesar sepanjang masa dalam Liga Champions. Tertinggal 0-4 setelah dikalahkan pada leg pertama oleh Paris Saint-Germain di Parc des Princes, Barcelona meluluhlantakkan lawannya pada leg kedua.
Kombinasi sundulan Suarez dan sebuah gol bunuh diri Layvin Kurzawa menghidupkan asa Barcelona dan gol Messi dari titik penalti membuat Barca di ambang menyamakan kedudukan agregat. Edinson Cavani sempat mengganggu impian Barca, tetapi dua gol dari Neymar dan satu gol Sergi Roberto pada menit ke-95 membuat remuk PSG.

Liverpool vs Milan; 3-3 (2005)
Selain diwarnai pembalikan heroik, pertandingan final di Istanbul ini merupakan laga yang emosional sekaligus melelahkan. Maldini menciptakan gol cepat pada detik ke-60 sebelum digandakan Hernan Crespo sehingga menghancurkan hati Liverpool. The Reds bangkit, pertama lewat sundulan Steven Gerrard yang digandakan dengan gol Vladimir Smicer. Liverpool berbalik unggul lewat Xabi Alonso sebelum disamakan Dida untuk memaksakan adu penalti. Andriy Shevchenko gagal pada adu penalti untuk memastikan gelar Eropa kelima untuk The Reds.

Ant.

(Zaenal Arifin)