Bendera kebangsaan Turki (Foto: Google)

Ankara, Aktual.com – Turki mengungkapkan rasa “keprihatinan yang mendalam” pada hari Sabtu (5/9) atas keputusan Serbia memindahkan kedutaan besarnya di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem.

“Kami menyerukan semua negara untuk mematuhi resolusi PBB yang diadopsi mengenai masalah ini, menghormati status sejarah dan hukum Yerusalem, dan menahan diri dari langkah-langkah yang akan membuat resolusi konflik Israel-Palestina semakin sulit,” kata Kementerian Luar Negeri dalam pernyataan tertulis, seperti dikutip dari Anadolu Agency, Minggu (6/9).

Dalam pernyataannya ditegaskan bahwa aneksasi Yerusalem oleh Israel ditolak oleh komunitas internasional dan PBB.

“Telah berulang kali ditekankan dalam berbagai resolusi PBB bahwa masalah Palestina hanya dapat diselesaikan dengan pembentukan negara Palestina yang merdeka dan berdaulat berdasarkan perbatasan tahun 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya,” katanya menggarisbawahi.

Menurutnya, setiap negara yang memindahkan kedutaannya ke Yerusalem jelas merupakan pelanggaran hukum internasional.

Tanggapan Turki datang setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan pada hari Jumat bahwa Serbia setuju memindahkan kedutaannya ke kota yang diperebutkan pada bulan Juli.

Para pemimpin Serbia dan Kosovo bertemu dalam dialog dua hari yang disponsori AS di Washington di mana mereka mencapai tonggak bersejarah – setuju untuk menormalisasi hubungan ekonomi.

Serbia dan Kosovo menandatangani perjanjian terpisah dengan AS di mana Serbia setuju untuk memindahkan kedutaannya ke Yerusalem. Kosovo dan Israel sepakat untuk menormalisasi hubungan dan menjalin hubungan diplomatik.

Serbia juga setuju untuk membuka kantor komersial di Yerusalem pada bulan September.(RRI)

(Warto'i)