Irawan Santoso Shiddiq, Direktur Eksekutif Daar Afkar & Co. Lawyers
Irawan Santoso Shiddiq, Direktur Eksekutif Daar Afkar & Co. Lawyers

Mari melongok dulu kata Plato dalam ‘Republic’. Dia berkata, “Siapa yang berhak membuat hukum bagimu?” Tanya itu menimbulkan masalah. Tentang problematika peradaban. Karena Socrates, guru Plato, membagi dua jenis hukum: natural law (hukum alam) dan reason law (hukum rasio).

Perbedaannya terletak dari sumbernya. Hukum alam –tentu yang bukan diubah defenisinya oleh kaum rennaisance–, berasal dari Tuhan. Sementara hukum rasio, ini berasal dari manusia. Jaman modern ini, jamak tak paham lagi mana hukum alam. Karena hukum yang tersedia hanya satu: hukum rasio. Namanya: positivistik. Maka disebut hukum positive. Jika pun muncul hukum alam –vis a vis menggunakan nama agama—sudah dipastikan itu hanya cangkokan. Karena tak mungkin ‘hukum alam’ berada di bawah hukum positive.

Socrates memberi tentang ‘akal budi’. Ini buah cara berpikir rasio, yang melahirkan morality. Inilah hukum yang sempurna. Sanadnya berasal dari akal manusia. Karena Socrates mengajarkan, akal itulah sumber ‘Kebenaran’. Manusia, kata mereka, wajib menggalinya. Plato menyebutnya sebagai ‘ide bawaan’. Aristoteles menyebutnya: ‘akal bawaan.’ Ini ‘idea’ yang diberikan Tuhan bagi manusia, untuk mengungkapkan ‘kebenaran.’

Dari situ, Plato menjabarkan sosok ideal sebagai pemimpin suatu masyarakat. Dialah filosof. Karena filosof, yang mampu menyibak ‘kebenaran’ via rasio-nya. Republik versi Plato, wajib dipimpin sosok yang menggunakan akal-nya. Karena akal, dianggap sebagai kebijaksanaan. Plato menggambarkan tubuh pada tiga bagian: kepala, dada dan perut. Kepala itulah akal, dada itulah kehendak dan perut itulah nafsu. Disitu kata yang penting dipahami: kehendak. Karena ini yang kemudian menjadi masalah hingga peradaban kini. Sekali lagi, perihal kehendak. Hal ini berpengaruh dalam melihat takdir. Tepatnya, memandang tentang Qada dan Qadar.

Ternyata, filsafat tak seindah kata-katanya. Karena filsafat kerap jadi momok sejarah. Romawi di Konstantinopel, abad 4 Masehi. Kala Konsili Nicea, memutuskan melarang ajaran filsafat. Akademi Plato ditutup. Filsafat dianggap ajaran sesat yang tak mengarah pada ‘kebijaksanaan’. Melainkan kesesatan.

Abad 7 masehi, Islam mulai membahana. Membesar seantero jazirah. Masa Ummayya, perihal Qada dan Qadar memunculkan perdebatan. Mulai dipertanyakan, “Bagaimana hukumnya orang yang membuat dosa besar?” Paham ini mencuat tajam. Ini yang disebut aliran qadariyya (bukan Qadiriyya- pengajaran tassawuf dari Shaykh Abdalqadir al Jilani). Dari ini muncul analisa rasio: kehendak itu datang dari manusia. Bukan dari Tuhan. Qadirriyya, berbanding terbalik dengan jabbariyya. Paham ini menganggap Tuhan penyebab segala sesuatu, yang manusia sama sekali tak punya kehendak dan daya. Qudrah dan Iradah ditangan Tuhan sepenuhnya. Jabariyya menganggap manusia bak kapas yang terbang tertiup angin. Ini juga aqidah yang keliru. Tapi keseruan bukan disitu.

Karena penganut qadariyya berjumpa dengan filsafat. Disinilah mencuat mu’tazilah. Melahirkan aqidah besar masa Islam, abad pertengahan. Mu’tazilah mengadopsi filsafat. Al Farabi memberi teori emanasi. Tentang ‘Kebenaran ganda’. Kebenaran dari Tuhan dan kebenaran dari akal manusia. Dia merujuk Aristoteles, dan digelari guru kedua, selepas Aristoteles. Filsosof dianggap setara dengan Nabi. Karena Nabi menemukan kebenaran dengan bimbingan Wahyu. Sementara filosof menemukan kebenaran dengan akalnya. Ingat, karena filsafat menganut ‘idea bawaan” atau ‘akal bawaan’, yang juga dianggap dari Tuhan.

Mu’tazilah membesar hingga hinggap pada beberapa Khalifah. Bahkan Khalifah Makmun al Rasyid sempat bermimpi jumpa dengan Aristoteles, favoritnya. Jabariyya mati suri. Tapi mu’tazilah dianggap membahayakan. Tragedi ‘al mihnah’ jadi perdebatan. Karena mu’tazilah memaksa kehendak. Bahwa semua ulama wajib percaya, “Al Quran itu makhluk”. Imam Ahmad bin Hambal sempat dipenjara beberapa tahun karena menolak doktrin hasil rasio itu.

Muncullah kemudian Imam Asyari. Memberi benteng aqidah pada umat. Tentang kesesatan mu’tazilah. Imam Mathuridi dari Samarkhand ikut juga. Imam Al Ghazali menyerang habis filosof mu’tazilah. Dia membawa kembali umat pada tassawuf. Dan Shaykh Abdalqadir al Jilani, membumikan kembali tassawuf. Umat pun selamat. Lahirlah peradaban Ayyubiyya, Mamluk, sampai Utsmaniya. Dan sejumlah kesultanan di negeri Melayu. Masa keemasan Islam, mencuat lima benua dikendalikan oleh muslimin.

Utsmaniyya, kesultanan Aceh dan negeri-negeri Melayu, Magribia, Moghul dari anak benua India dan kesultanan di Libya. Itulah jaman Islam membesar, tanpa filsafat. Sementara periode Andalusia, yang mengadopsi filsafat, kemudian tamat. Karena sains yang tinggi, buah dari filsafat, tak berbanding lurus dengan kekuatan Islam. Cordoba yang megah, dan Istana Al Hambra di Granada, dengan mudah ditaklukkan pasukan Portugis, yang bahkan belum mengenal kopi. Padahal sains sangat tinggi. Sebuah ironi.

Masa mu’tazilah, mereka mendudukkan aqli setara dengan naqli. Sementara ahlul sunnah mendudukkan naqli lebih dulu, baru aqli. Ini runtutannya. Aqli tak bisa setara dengan naqli. Ulama ahlul sunnah membentung filsafat.

Kemana larinya filsafat? Ternyata diterekspor ke Eropa barat. Di sana, filsafat diperlukan.
Thomas Aquinas mengimpornya dari Cordoba. Dia membawanya ke Italia. Aquinas mulai memfilsafat-kan Kristen. Dia menuliskan teori emanasi untuk dunia Kristen. Kitabnya ‘Tweez Waarden Theorie” (ajaran dua belah pedang). Ini teori emanasi. Tentang kebenaran ala Gereja dan kebenaran ala akal. Aquinas mengutip lagi Al Farabi. Sejak itulah filsafat dipungut Eropa. Karena mereka berhadapan dengan jabbariyya-nya Gereja Roma.

Kala itu adagium ‘Vox Rei Vox Dei’ begitu menggema. Suara Raja Suara Tuhan. Eropa dilanda kebenaran tunggal: yang muncul dari fatwa Gereja Roma. Gereja dan Raja menjadi dwitunggal perihal ‘kebenaran’. Tapi prahara kemudian muncul. Karena dogma tak boleh disanggah. Walau terkadang berbenturan dengan akal.

Disitulah filsafat menjadi ajang yang diminati. Magna Charta di Inggris, menjadi pendobrak awal. Ketika titah Raja, tak sepenuhnya berupa ‘kebenaran.’ Karena menampik Raja, dianggap menampik Tuhan.

25 Baron di Inggris, berani menentang titah Raja John perihal pajak yang memberatkan. Alhasil kontrak baron dan Raja, dianggap jalan keluar. Disitulah adagium ‘Vox Rei Vox Dei’ seolah bisa digoyang. Tak mutlak berlaku.

Absolutisme Raja dianggap tak berlaku mutlak. Otoritas Gereja Roma tak boleh disanggah. Walau terkadang dogmanya bertentangan dengan akal. Disitulah jabbariyya memuncak. Hingga kemudian filsafat berupaya mendobrak. Copernicus memulai. Menentang dogma dengan teori. Dia bilang heliosentris berada di matahari. Bukan bumi. Tapi Copernicus dihukum. Copernicus merujuk teorinnya kaum mu’tazilah dulu. Bukan berdiri sendiri. Teori itu diteruskan Galileo. Berdasarkan pengamatannya, bumi bukan pusat tata surya, melainkan matahari. Gereja kepanasan. Filsafat mulai menjadi momok.

Disitulah rennaisance berkumandang. Masa mu’tazilah, filsafat di-Islam-kan. Masa rennaisance, filsafat di-Kristen-kan. Tapi rennaisance masih menganut ‘kebenaran Ganda’. Tentang setaranya aqli dan naqli. Mereka menuntut diakuinya kebenaran ala rasio. Bukan semata kebenaran ala Gereja.

Ian Dallas berkata, masa rennaisance itulah filsafat yang semula dijadikan ajang pembahasan perihal kosmosentris, kemudian bergeser. Tentang bagaimana urusan umat manusia diatur. Filsafat pun merambah menteorikan tentang kekuasaan. Dari mana sebenarnya kekuasaan berasal? Dogma ‘Vox Rei Vox Dei’ digoyang. Di Inggris, inilah kerajaan yang perdebatan paling panjang. Karena raja telah berubah menjadi ‘the king can do no wrong’. Raja dianggap tak bisa salah. Karena adagium “Vox Rei Vox Dei” tadi. Segala titah raja wajib dipatuhi, walaupun tak diterima secara rasio.

Muncul dua gelombang perlawanan. Kelompok pertama, kaum yang memprotes perihal aqidah. Inilah yang lahir dari Luthern dan Calvinis. Yang kemudian memunculkan Protestan. Kaum ini bertemu dengan filsafat, yang melahirkan sebuah paradigma baru. Tapi satu kelompok lagi tetap bertahan. Mereka kaum Kesatria, penjaga ‘virtue’ (kebajikan). Virtue berbeda dengan ‘akal budi’ dalam kosakata filsafat. Karena ‘virtue’ merujuk pada keilahian. Sebagaimana dulu Cicero mengumandangkan. Cicero, ulama Romawi, merujuk tentang Tauhid berada di atasnya, kemudian hukum rasio. Sementara filosof rennaisance berpondasikan aqli setara dengan naqli.

Abad 17, kerajaan Inggris raya goyang. Karena perlawanan dari kelompok Kesatria. Komandannya bernama Robert Deveroux. Dia bergelar Earl of Essex kedua. Ingat tragedi Magna Charta lalu. Itu dikomandasi para baron yang muncul dari kaum Kesatria. Mereka penegak virtue. Virtue ini ilmu yang diekspor Salahuddin al Ayyubi dan muslimin masa Perang Salib. Masa itu terjadi persinggungan Muslimin dan Kristen. Alhasil terjadi transformasi ilmu. Futtuwa di ekspor ke Eropa. Tak sekedar filsafat yang diekspor.
Virtue melahirkan Ordo Kesatria. Mereka melawan ordo Cecilia, yang menjadi cikal bakal ordo bankir. Robert Deveroux setia mendampingi Ratu Elisabeth, pemimpin kerajaan Inggris. Tapi Deveroux melawan. Tak mau diperlakukan semena-mena. Dia mendobrak adagium ‘the king can do no wrong.” Tidak bisakah Raja keliru? Tidak bisakah subjek menerima salah? Apakah kekuatan dan otoritas duniawi tak terbatas?”, kata Deveroux. Ini kalimat penting jaman itu. Karena tak jamak yang berani menentang “Vox Rei Vox Dei”. Deveroux menunjukkan ‘Kebenaran’ ketika perilaku Ratu Elisabeth dianggapnya menyimpang.

Tapi filsafat lebih diminati. ‘Akal budi’ jadi ajang manjur mengobrak abrik ‘absolute power’ dari Raja dan Gereja. Perihal ‘kehendak’ jadi bahasan utama. Karena filsafat mematok bahwa ‘kehendak’ berada di tangan manusia, bukan Tuhan. Disinilah filsafat menjadi panduan. Machiavelli memulai dengan Il Principe. Dia memaksa supaya kekuasaan haruslah stabil. Pangeran, katanya, harus bisa cerdik seperti kancil dan buas seperti singa. Machiavelli menentang ‘virtue’ dan lebih merujuk pada ‘akal budi’ sebagai sumber kebijaksanaan. Montesquei makin melengkapi. Teori-teori, yang sumbernya idea, jadi laku keras. Trias Politica diperkenalkan. Demi melawan ‘absolute power’ dari ‘Vox Rei Vox Dei’ tadi. Montesquei menganggap, kekuasaan haruslah dikontrol oleh manusia. Karena kehendak, berada di tangan manusia, bukan Tuhan.

Ada tiga aliran yang menentang dogma ‘Vox Rei Vox Dei’ kala itu. Itulah kelompok Kesatria yang dikomandadi Deveroux, lalu kelompok monarchomach dan aliran politik. Tapi selepas Deveroux dihukum pancung oleh Inggris, praktis kaum Kesatria tak lagi bersuara. Tinggalah pertarungan antara kaum monarchomach dan the politik. Aliran poltik inilah yang sepenuhnya mengadopsi filsafat. Karena merujuk dari ‘Politeia’nya Plato. Aliran politik menekankan tentang ‘kehendak’ yang berada pada manusia. Bukan domain Tuhan.

Monarchomach masih menuntut adilnya perilaku raja. Mereka menentang ‘the king can do wrong’. Ajaran Luthern dan Calvin jadi pondasi. Hotman, pelopor aliran ini bersikap tegas bahwa ‘absolute power’ pada ‘Vox Rei Vox Dei’ bukanlah termasuk ajaran agama Kristen. Mereka menampik itu. Kemudian muncul artikel yang dahsyat, Vindiciae Contra Tyrannos. Penulisnya adalah Dupllesis Mornay, penasehat Raja Charles di Perancis. Mornay memberi gambaran tentang bagaimana kekuasaan yang merupakan titah dari Tuhan, tapi harus bertindak benar. Monarchomach tetap setuju adagium ‘Vox Rei Vox Dei’. Tapi mereka menolak ‘the king can do no wrong’.

Sementara, dunia Eropa gempar dengan munculnya filsafat. Francis Bacon mulai berteori. Dia bilang, ‘Aku Ada maka Aku Berpikir.” Manusia, merupakan objek yang mengamati. Bukan lagi objek yang diamati. Akal, sepenuhnya menjadi pijakan menentukan ‘being’. Bukan lagi Wahyu. Ditambah akrobatik baru dari Rene Descartes: cogito ergo sum. “Aku Berpikir maka Aku Ada”. Disini akal menjadi sentral tunggal untuk melihat “being”. Tak ada lagi Wahyu sebagai pijakan.

Renaisance mendudukkan aqli dan naqli sejajar. Mu’tazilah juga demikian. Tapi modernitas, semenjak Bacon, Descartes dan lainnya, menghilangkan naqli. Mereka sepenuhnya bersandar pada aqli. Inilah filsafat materialisme. Menanggalkan filsafat idealisme.

Sementara aliran politik, inilah yang berjumpa filsafat. Hugo De Groot mulai bersuara tentang kekuasaan itu bukan mutlak pada raja.

Melainkan berlandaskan kehendak manusia. Ini sejalan dengan munculnya filsafat. Grotius menanggap, kehendak berkuasa adalah berasal dari suara manusia. “Tuhan sendiri tak bisa membuat perubahan apapun pada kebenaran..” katanya dalam bukunya ‘De Jure Belli ac Pacis.’ Sejak itulah ‘kehendak’ Tuhan mulai dieliminasi. Karena manusia mulai berpijak pada ‘segala sesuatunya adalah materi.’ Itulah filsafat.

Thomas Hobbes makin menambahkan. Dia berteori, manusia lahir sebagai kertas putih. Hak kekuasaan berada pada siapa saja. Leviathan, bukunya, jadi pijakan. Filsafat jadi dasarnya. Hobbes menganggap kekuasaan sepenuhnya berada di tangan manusia, karena manusia yang berkehendak. Sebagaimana teorinya, ‘bellum omnium contra omnes’. Sifat inilah yang mendasari menentukan sendiri ‘nasibnya’. Hobbes mengarahkan bahwa takdir itu sepenuhnya sebagai bentuk pilihan manusia. Bukan ketetapan Tuhan.

John Locke masih lebih normal. Locke memperkenalkan teori ‘duel contract’. Kekuasaan, katanya, berasal dari dua kontrak: manusia dan Tuhan. Raja, mendapatkan kekuasaan dari Tuhan dan dari rakyat. Locke masih berpegang bahwa kekuasaan tak datang dari kehendak Tuhan sendiri. Melainkan juga dilengkapi dengan kehendak ‘rakyat’ (manusia). Sementara Vox Rei Vox Dei dianggap kekuasaan hanya berpatokan pada ‘kehendak Tuhan’ tanpa mengindahkan ‘kehendak rakyat’. Tapi kemudian muncul teori akrobatik baru dari Jean Jacques Rosseau. “Sejak Rosseau maka semuanya berubah,” kata Ian Dallas dalam bukunya, ‘The Entire City.’

Rosseau meletakkan sepenuhnya ‘kehendak’ berada di tangan manusia. Dia merujuk Descartes, tentang filsafat yang tak lagi mengutip naqli. Melainkan sepenuhnya aqli. Kehendak manusia itulah yang menentukan bagaimana manusia mengelola kehidupan. Dia menuangkan dalam kitabnya, ‘Le contract sociale.’ Kontrak sosial. Pangeran, katanya, merupakan kehendak manusia.

Drama filsafat bertemu dengan aliran politik inilah yang kemudian memuncak. Yang kemudian berkoalisi lagi dengan Ordo Cecil. Siapa mereka? Ini sekelompok hedonis dari klan kerajaan Inggris, yang kemudian mengendalikan kerajaan. Ordo Cecil inilah kaum pedagang uang, yang kemudian menjadi bankir. Koalisi bankir dengan politik ini yang kemudian melahirkan revolusi Inggris, 1668. Saat itulah Raja Inggris, William of Orange dikendalikan bankir, dengan dimodali utang. Dan Ordo cecil kemudian mendapat hak mengatur uang kerajaan Inggris. Alhasil Inggris bukan lagi duet ‘Raja dan Gereja.” Melainkan ‘Raja dan bankir’. Dari sinilah cikal bakal modern state muncul.

Setahun kemudian, Robbespierre memimpin revolusi Perancis. Kitab pemandunya adalah ‘le contract sociale’ ala Rosseou. Kehendak manusia sepenuhnya. Raja Louis XVI pun digantung bersama istrinya. Drama genosida modern pun dimulai. Sejak itulah kudeta atas ‘Vox Rei Vox Dei’ dimulai. Berubah menjadi ‘Vox populi Vox Dei’. Suara rakyat suara Tuhan. Tapi perjalan kemudian tak lagi menunjukkan demikian.

Karena Robbiespierre kemudian dikudeta internal. Kaum pemuja liberte, egalite, dan fraternite kemudian pecah. Robbiespierre dikudeta dan digantikan Napoleon Bonaperte. Muncullah ‘state’ Perancis, menggantikan kerajaan Perancis. Itulah drama modern state bermula. Tapi Napoleon berduet dengan bankir. Kaum pemuja uang. Di Inggris, mereka para baron yang berubah menjadi ordo bankir. Di Perancis, para borjuis itu yang kemudian menjadilan Kaisar Napoleon. Slogan ‘Vox Populi vox Dei’ hanya jadi bualan. Karena faktanya penentu pemimpin, bukan lagi rakyat. Melainkan kaum bankir itu. Dari sini tampaklah drama modern state, telah berubah.

Rasionalitas yang dulu jadi pijakan, telah bergeser. Plato menggambarkan bahwa kepala adalah akal, dada adalah kehendak, dan perut adalah nafsu, kini menjadi berbalik. Pemimpin bukan lagi filosof. Melainkan sosok yang diinginkan dan boneka para bankir.

Vox Rei Vox Dei memang telah berubah menjadi ‘Vox populi vox Dei.’ Tapi perjalanan selama 200 tahun terakhir ini, menampakkan wujud aslinya. Rakyat tak memerintah. Filosof tak memerintah. Bukan akal yang menjadi pemimpin. Melainkan ‘nafsu’ yang jadi sentral. Kehendak, yang menjadi dasar eliminasi ‘Kebenaran’ wahyu, mudah bergeser. Maka, nampaklah ‘perut’ (nafsu) yang mengendalikan tubuh. Bukan seperti kata Plato, kepala (akal) yang mengendalikan tubuh. Karena realitas kini yang terjadi ialah ‘Vox populi Vox Bankir’. Suara rakyat suara bankir. Karena entitas yang memerintah sebenarnya adalah kaum bankir itu. “Dimana kekayaan dikendalikan, disitulah kekuasaan berpusat,” terang Ian Dallas. Dan Dallas menggambarkan, siapa yang mengendalikan kekayaan, disitu kontrol terjadi, dan kekayaan adalah bentuk pengendalian uang. “Uang kini berada dalam kontrol bankir, bukan negara,” terangnya.

Fakta ini menunjukkan pesan Imam Ghazali dulu terjadi benar. Karena rasio atau akal bisa saja salah. Filsafat telah menggeser bahwa kehendak itu berada di tangan manusia. Bukan domain Tuhan. Itulah buah rasionalitas. Alhasil kebenaran ala akal mudah ditipu daya, dengan teori-teori palsu yang bisa dimobilisir. Inilah wujud bagaimana modern state era kini. Bukan lagi berbentuk ‘vox populi vox Dei’.

Dari gambaran ini, Islam memberikan jalan keluar. Tapi bukanlah modernis Islam, yang ironis. Sejak mencuatnya modern state, mencuat pula kelompok modernis Islam, yang berupaya mengembalikan lagi rasio sebagai pijakan. Tapi terang, mereka hanya berteori ‘Islamisasi atau Islamisme’. Yang sebetulnya hanya mencocokkan Islam, agar sesuai dengan kuffar. Intinya, meletakkan lagi naqli di bawah aqli. Inilah ironisnya. Masa mu’tazilah dulu, naqli diletakkan sejajar dengan aqli. Modernitas telah mengeliminasi naqli.

Modernis Islam malah ironis, meletakkan naqli dibawah aqli. Alhasil muncullah negara Islam, bank Islam, konstitusi Islam, legislasi syariah sampai asuransi Islam. Ini wujud aqli letakkan diatas naqli.

Jalan kembali tentu meletakkan lagi naqli diatas aqli. Martin Heidegger telah berkata, “Filsafat tak bisa dijadikan ajang menentukan kebenaran, karena filsafat bisa dibuat memadai dan tidak memadai.” Heidegger menegaskan, filsafat hanya memunculkan kebenaran essensialis bukan kebenaran eksistensialis. Inilah yang berwujud bahwa manusia modern berada pada “teknikal state”, sebagaimana disebutkan Ian Dallas. Dan Nietszche telah menegaskan, “Filsafat itulah berhala.” Karena memang filsafat mengarahkan seolah qudrah dan iradah berada ditangan manusia. Ini alibi bahwa seolah manusia berhak membuat teori kekuasaan sendiri, hukum sendiri, sampai uang sendiri, yang berujung hanya menguntungkan secuil kelompok. Ini yang disebut Dallas sebagai masyarakat psikosis. Masyarakat manusia yang sakit. Karena terjebak pada saintisme, buah filsafat itu sendiri.

Tentu manusia yang berpikir, harus bisa keluar dari jerat penjara saintisme itu. Islam tentu memberi jalan keluar. Karena Islam menegaskan tentang naqli yang harus berada diatas aqli. Allah Subhanahuwataala berfirman dalam Al Quran dalam Surat Shaffat ayat 96:

“Allah menciptakan dirimu dan perbuatanmu”

Ayat ini menegaskan segala sesuatu dalam kehidupan alam dunia ini merupakan qudrah dan iradah Allah Subhanahuwataala.

Modernitas, terjebak tentang kehendak yang berada pada manusia sepenuhnya. Jabbariyya menganalogikan manusia tak berdaya berbuat apa-apa. Sementara ahlul sunnah meggariskan: manusia bisa melempar gelas, tapi yang menentukan gelas itu pecah atau tidak adalah Allah.

Nah, dari sini ‘Vox Rei Vox Dei’ menjadi ajang yang perlu dikembalikan. Karena disanalah Tali Allah bersarang. Sebagaimana yang diajarkan Robert Deveroux, abad 17 lalu. Karena Deveroux mendapatkan pengajaran dari generasi Salahuddin al Ayyubi. Disitulah pemimpin yang telah lepas dari ajaran mu’tazilah. Filsafat. Dan kembali pada tassawuf.

Wassalamuallaikum..

Oleh:

Irawan Santoso Shiddiq, Direktur Eksekutif Daar Afkar & Co. Lawyers

(A. Hilmi)