Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Harvick Hasnul Qolbi (kanan) bersama Ekonom Senior, Prof. Emil Salim di Taman Patra Kuningan Jakarta Selatan. Foto: istimewa/AKTUAL
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Harvick Hasnul Qolbi (kanan) bersama Ekonom Senior, Prof. Emil Salim di Taman Patra Kuningan Jakarta Selatan. Foto: istimewa/AKTUAL

Jakarta, Aktual.com – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Harvick Hasnul Qolbi melakukan kunjungan ke kediaman ekonom senior, Prof. Emil Salim di bilangan Jakarta Selatan, pada Rabu (26/10/2022).

Pertemuan tersebut membahas potensi pertanian Indonesia menuju kedaulatan pangan.

Wamentan Harvick mengatakan saat ini pemerintah terus mengejar kedaulatan pangan nasional dengan meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian.

Salah satunya melalui pola tanam padi dengan indeks pertanaman (IP) 400 yang dikelola dalam klaster kawasan berbasis korporasi petani.

“Ini merupakan pertemuan yang penuh keakraban antara junior kepada senior. Saya banyak menyerap ilmu beliau yang begitu konsen terhadap sektor pertanian nasional,” kata dia dalam keterangannya.

Wamentan Harvick juga menyampaikan bahwa dalam setiap kunjungannya, ia selalu memotivasi para petani untuk bersama-sama mewujudkan kedaulatan pangan.

“Saya juga sampaikan kepada Prof Emil, bahwa hampir di setiap kunjungan saya ke berbagai daerah, selalu memotivasi para petani untuk meningkatkan produksi agar dapat mewujudkan kedaulatan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani,” tuturnya.

Wamentan Harvick saat berdiskusi dengan Ekonom Senior, Prof. Emil Salim di Jakarta Selatan. Foto: istimewa/AKTUAL
Wamentan Harvick saat berdiskusi dengan Ekonom Senior, Prof. Emil Salim di Jakarta Selatan. Foto: istimewa/AKTUAL

Sementara itu, Prof Emil Salim mengatakan orientasi pertanian Indonesia harus diubah tidak hanya fokus mengejar ketersediaan pangan (Food Security), melainkan harus mengejar kedaulatan pangan atau Food Sovereignty.

Untuk mewujudkan hal tersebut, maka hal yang diutamakan adalah adalah production capacity.

Prof Emil juga mengingatkan pemerintah agar dalam menyusun kebijakan pertanian, tetap bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

Ia pun menyebut situasi saat ini, dimana nilai tukar petani sangat rendah, bahkan lebih rendah dari modal yang harus dikeluarkan petani.

(A. Hilmi)