Jakarta, aktual.com –¬†Ratusan rakyat Palestina di Jalur Gaza ikut merayakan HUT ke-74 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) meski wilayah itu masih diblokade zionis Israel.

“Alhamdulillah sekurangnya 900 warga Palestina di Gaza ikut melaksanakan upacara HUT ke-74 Kemerdekaan RI pada 17 Agustus lalu,” kata sukarelawan Indonesia yang menetap di Jalur Gaza, Palestina, Abdillah Onim melalui sambungan telepon di Jakarta, Senin (19/8).

Perayaan HUT ke-74 Kemerdekaan RI di Gaza itu, katanya, dipusatkan di Taman Bisan Bait Lahiyah, Gaza Utara

Ia juga mengemukakan bahwa selain rakyat Gaza, kegiatan itu juga dihadiri pejabat Palestina di Gaza seperti Menteri Kesehatan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Wakil Menteri Kebudayaan, dan sukarelawan organisasi kegawatdaruratan kesehatan, “Medical Emergency Rescue Committee” (MER-C) Indonesia yang sedang melaksanakan pembangunan tahap II Rumah Sakit Indonesia (RSI).

“Hadir juga ulama Palestina dan ratusan santri hafidz Quran,” katanya.

Dalam rangkaian perayaan itu, warga Gaza mengibarkan bendera Indonesia Merah Putih diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Sementara itu, Wakil Menteri Kebudayaan Palestina di Gaza Dr Anwar Barawi menyampaikan selamat kepada bangsa Indonesia dan juga ucapan terima kasih kepada pemerintah dan rakyat Indonesia yang selalu berada di garda terdepan untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

Rangkaian acara HUT RI ke-74 itu ditutup dengan menggelar sejumlah perlombaan seperti lari karung, panjat pinang dan tarik tambang.

Selain itu, juga ditampilkan kesenian dan kebudayaan baik dari Indonesia maupun Palestina, yakni tarian Beksan Wanara, tarian Jawa, dan tarian tradisional Palestina yaitu dabka, demikian Abdillah Onim.

Abdillah Onim sebelumnya adalah sukarelawan MER-C Indonesia yang kemudian menikah dengan muslimah Palestina.

Ia kini juga memimpin Yayasan Nusantara Palestina Center (NPC), lembaga sosial kemanusiaan berbadan hukum yang didirikannya, dan berkantor di Jakarta, untuk membantu pihak rumah sakit yang tidak mampu memberikan pelayanan makanan kepada pasien akibat krisis pangan, obat-obatan dan bahan bakar minyak (BBM) di kawasan itu.

Ant.

(Zaenal Arifin)