Jakarta, aktual.com – Mudik adalah pulang. Penyanyi Michael Buble dalam lagunya “I Wanna Go Home” merintih ingin pulang walau dia berulang kali menikmati musim panas di Paris dan Roma, dua kota yang sejarah dan kekiniannya memukau banyak manusia di berbagai belahan bumi.

Dia secara lirih menyatakan selalu merasakan kesendirian di dua kota yang berpenduduk jutaan orang itu dan itu pula sebabnya yang dia inginkan hanya pulang.

Sedangkan duo Maywood, Alice May dan Careen Wood, lewat lagunya “Mother How Are You Today” secara liris menyuarakan kekangenannya kepada Ibu ketika mereka dalam perantauan dan begitu lama tak jumpa

Maywood berjanji akan segera pulang pada musim panas dan memastikan keinginan pulang kali ini tidak akan tertunda karena mereka sangat ingin mengetahui kabar sang Ibu.

Mereka ingin bercerita pada Ibu tentang banyaknya peristiwa yang terjadi ketika mereka pergi dari rumah.

Boleh jadi, ungkapan yang tertulis dalam lirik dua lagu tersebut sama sebangun dengan perasaan jutaan perantau di kota-kota besar di Indonesia yang punya tradisi mudik saat masa libur Idul Fitri.

Tradisi mudik di negeri ini selalu mempertontonkan betapa para pemudik itu rela berlelah tak terhingga untuk mencapai kampung halaman.

Sulitnya mendapatkan tiket bus, kereta, hingga pesawat, atau bermacet-macet dalam hitungan jam hingga hari di jalan raya adalah seni bermudik, begitu kata seorang kawan yang kerap menjalani “ritual” mudik.

Itu sebabnya, ketika pandemi COVID-19 memaksa pemerintah mengeluarkan larangan mudik, Lebaran sungguh menjadi berbeda. Walau sebenarnya, pandemi itu memang mengubah semua yang biasa menjadi aneh dan berganti dengan kebiasaan baru yang aneh tapi harus dijalani.

Maka, ketika pintu mudik dibuka kembali setelah ditutup pada dua lebaran lalu, hal itu bakal disambut gempita oleh mereka yang sangat ingin berhari raya di kampung halaman.

Pemerintah menyebut angka 85,5 juta orang bakal bergerak dari kota-kota besar ke berbagai daerah untuk berkumpul bersama keluarga mereka.

Angka sebesar itulah yang kemudian menjadi dasar bagi pemerintah saat merencanakan berbagai dukungan agar arus mudik 2022 berjalan lancar.

Persiapan fisik yang digencarkan dan banyak dipublikasikan adalah penyiapan jalan raya, yang merupakan infrastruktur yang bakal menerima beban terbanyak saat arus mudik bergerak.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono pada sepuluh hari menjelang Lebaran menyatakan prasarana jalan nasional, tol dan jalur biasa serta jembatan siap dilalui pemudik.

Sarana darat di Jawa dan Sumatera, yang menjadi pusat pergerakan mudik, disebut telah siap dilalui dengan nyaman. Jalur jalan raya di Jawa dibagi menjadi tiga besar, yaitu jalur pantai utara, jalur tengah, dan jalur pantai selatan.

Arus mudik juga didukung oleh kesiapan 100 persen jalan tol di Jawa dan Sumatera.

Persoalan yang terjadi di jalan raya biasanya memang menjadi pusat perhatian nasional karena begitu banyaknya manusia yang terlibat di dalam “ritual tradisional” ini.

Untuk itu, persiapan fisik infrastruktur saja tidak cukup. Maka pada bagian lain, polisi bersegera membuat kebijakan untuk mengawal kelancaran arus lalu lintas selama masa-masa padatnya arus mudik terus terjaga.

Pihak keamanan telah merancang sejumlah rekayasa lalu lintas yang bakal diterapkan ketika puncak arus mudik terjadi. Pada musim mudik sebelum pandemi, puncak arus mudik terjadi mulai dua hari menjelang hari raya. Kemacetan luar biasa bakal terjadi pada saat itu.

Untuk mencegah terjadinya kemacetan yang luar biasa itu, pemerintah berulang kali mengeluarkan imbauan agar mereka yang akan mudik bergerak ke kampung halaman lebih cepat.

Soalnya, seberapa pun rapi dan terencananya rekayasa yang disiapkan, tetap bakal sangat repot jika pemudik bergerak serentak pada hari yang sama, yaitu pada satu atau dua hari menjelang lebaran.

Seperti hasil survei Kementerian Perhubungan, yang juga dikutip Presiden Jokowi, akan ada 23 juta mobil dan 17 juta sepeda motor. Jumlah yang pasti akan menimbulkan masalah di jalan raya jika pergerakannya bersamaan.

Maka, semakin banyak yang menuju kampung halaman jauh hari sebelum Lebaran, akan semakin memberi peluang munculnya kenyamanan di jalan raya pada arus mudik 2022.

Pemerintah memprediksi puncak kepadatan arus mudik akan terjadi pada 28-30 April. Maka, akan sangat membantu jika banyak yang mudik sebelum tanggal 28 April.

Selain masalah klasik tersebut, ada satu masalah yang memerlukan peran aktif masyarakat agar Lebaran kali ini berjalan lebih nyaman, yaitu soal protokol kesehatan.

Satu hal yang membuat pemerintah membuka pintu mudik pada 2022 ini adalah angka penularan virus COVID-19 yang cenderung melandai belakangan ini setelah pada 2020-2021 penularannya begitu dahsyat.

Maka, pemudik sangat diharapkan terus akrab dengan masker, vaksin, tes antigen dan PCR, sesuatu yang mulai dibiasakan ketika tiba-tiba saja negeri ini juga terjebak dalam pandemi global.

Persyaratan utama yang dikumandangkan pemerintah adalah keharusan mendapatkan vaksin penguat bagi semua pemudik. Namun, walau banyak orang yang antusias mendapatkan “booster” itu, peluang 100 persen pemudik dengan vaksin penguat sulit terpenuhi.

Itu sebabnya persyaratan antigen bagi yang sudah dua kali mendapat vaksin dan tes PCR bagi yang baru mendapat sekali vaksin menjadi syarat yang juga harus dijalankan.

Tentu saja, masker merupakan syarat utama yang juga jangan ditinggalkan selama silaturahim bersama keluarga besar. Tata cara makan bersama saat pandemi juga mesti dijaga dengan disiplin.

Unsur kehati-hatian dan saling menjaga sangat diperlukan.

Sangat diharapkan, pemudik tidak menyebarkan virus ke kampung halaman. Harapan yang sama, mereka tidak membawa oleh-oleh virus ke kota tempat mereka bekerja dan hidup menjalani hari-hari yang panjang sebelum kembali mudik tahun berikutnya.

Semua mesti menyadari bahwa pandemi belum usai.

Sambil menunggu “badai pandemi” berlalu, pemudik bolehlah terus mengingat betapa virus COVID-19 telah merengut banyak handai taulan. Ancaman itu masih ada.

(Antara)

(Rizky Zulkarnain)