Jakarta, Aktual.co — Jonathan Rigg pada 1862 dalam karya leksikografinya pertama bahasa Sunda–Inggris yang berjudul “A Dictionary of the Sunda Language of Java” menyebut Gunung Kendang menjadi salah satu nama gunung yang secara mandiri ditulis sebagai nama dan memiliki makna utuh sebagai Gunung.

Dalam pengertian Rigg, Gunung Kendang dijelaskan sebagai berikut: “The Kendang Mountains which extend the whole length (length-pen) of Java; wherever the mountains run in the ridges they are called Kendang – vide voce”

Penggiat Jelajah Gunung Bandung (JGB) Pepep, menjelaskan, catatan Rigg menjadi gambaran betapa pentingnya posisi Gunung Kendang. Patut diamini, lantaran gunung ini merupakan gunung tertinggi di kawasan Bandung Raya dengan ketinggian 2.617 diatas permukaan laut (mdpl).

Alam liar menjadi ciri lain dari gunung ini. Karakteristik hutan hujan ditambah minimnya informasi soal gunung ini, membuat terjadinya kecelakaan di gunung.

Kisaran November 2013, mahasiswa Institut Teknik Bandung (ITB) Joan Tobit Sigalingging (23) dinyatakan hilang saat akan mendaki Gunung Papandayan melalui Gunung Kendang. Akhirnya jenazah Tobit ditemukan Tim SAR, Senin 25 November 2013.

Tobit yang dinyatakan hilang sejak 5 November itu, ditemukan sekitar pukul 05.00 WIB. Ia dikabarkan berangkat mendaki sejak Sabtu 26 Oktober 2013, dan ditemukan dalam kondisi meninggal di kawasan Gunung Kendang. Jasad Tobit ditemukan tim SAR di lereng curam jalur pendakian arah barat.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Gathering JGB II, Kresna mengatakan, JGB sendiri digelar dalam dua hari. Di hari pertama, Sabtu (10/5), rombongan bergerak sekitar jam 9 pagi. Dengan jarak sekitar lima kilometer sampai puncak, pendakian menempuh waktu perjalanan enam atau tujuh jam perjalanan.

Di hari pertama, peserta dan panitia tidak langsung ‘muncak’ (summit), tapi akan mengarah ke savana. Di sini, tenda-tenda ngeriung dan sharing isu, apapun itu. Canda tawa, silaturahmi dan wawasan tersaji di sesi ini.

Nah, di hari kedua, Minggu (11/5), rombongan akan menjejakan kaki di puncak gunung, setelah itu langsung turun ke bawah alias pos perizinan. Alhamdulilah, JGB II bisa berjalan sesuai schedule tanpa kurang satu apapun. Rombongan sampai kembali sekitar pukul 14.00 di pos perizinan.

(Warnoto)