Jakarta, Aktual.com — Melanjutkan pemberitaan Aktual.com sebelumnya, hubungan intim (atau senggama) secara Islami. Melakukan hubungan intim antara suami istri merupakan hal yang lumrah, bahkan setiap orang menyukainya. Dalam agama Islam hubungan badan suami istri tidak hanya sekedar untuk melampiaskan nafsu belaka.

Melainkan juga sebagai ibadah kepada Allah SWT, dan islam pun menganjurkan suami istri bercinta pada waktu-waktu yang baik.

Islam bukan agama yang mengkebiri nafsu syahwat manusia, begitu pula bukan agama yang memperbolehkan pemeluknya untuk mengumbar nafsu syahwat. Akan tetapi ia memberikan jalan penyaluran nafsu syahwat melalui jalan yang benar yaitu pernikahan. Walaupun pernikahan dalam Islam tidak dipandang dari segi seksualnya semata.

Bahkan lebih dari itu, menikah dianggap sebagai salah satu pintu untuk menuju kesempurnaan dan kebahagiaan yang ingin dicapai oleh manusia. Setelah mereka memasuki kehidupan berumah tangga, maka peranan kedua orang tua semakin terasa.

4. Berdandan dan berpakaian yang disukai suami atau istri

Adakalanya istri malu memakai pakaian minim yang disukai suaminya. Padahal dalam sebuah Hadis disebutkan “Sebaik-baik istri kalian adalah yang pandai menjaga diri lagi pandai membangkitkan syahwat. Yakni keras menjaga kehormatan dirinya lagi pandai membangkitkan syahwat suaminya.” (HR. Ad Dailami).

Senada dengan Hadis itu, Muhammad Al Baqir, cicit Husain bin Ali menjelaskan, “Sebaik-baik wanita diantara kalian adalah yang membuang perisai malu ketika menanggalkan pakaian di hadapan suaminya dan memasang perisai malu ketika ia berpakaian kembali.”

Hadits dan maqalah ini juga menjadi dalil bahwa di dalam jima’, suami istri boleh menanggalkan pakaian dan tidak haram melihat aurat masing-masing.

5. Jima’ di tempat tertutup

Ustad Muhamad Ikrom menjelaskan, bahwa Islam mengatur kehidupan umat manusia agar kehormatan dan kemuliaannya terjaga. Demikian pula dengan jima’. Hubungan intim harus dilakukan di tempat tertutup, tidak diketahui oleh orang lain meskipun ia adalah anak atau keluarga sendiri.

Oleh karena itu, saat anak berusia 10 tahun, Islam mensyariatkan untuk memisahkan kamar anak-anak. Kamar anak laki-laki terpisah dari kamar anak perempuan.

Bagaimana jika anak masih kecil dan tidurnya bersama orang tua ?

“Pastikan ia tidak melihat aktifitas suami istri tersebut. Caranya bisa pindah kamar,” kata Ustad Ikrom, kepada Aktual.com, di Jakarta, Jumat (19/02).

6. Berdoa sebelum hubungan intim (senggama)

Dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas dituturkan, Rasulullah SAW bersabda: “Jika salah seorang diantara kalian hendak mencampuri istrinya, maka hendaknya sebelum senggama membaca doa,

بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

Artinya, “Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah jauhkanlah kami dari Setan. Dan jauhkan setan dari apa-apa yang Engkau karuniakan kepada kami (anak keturunan).”

Ustad Ikrom menuturkan, dengan memanjatkan doa, diharapkan anak yang lahir dari buah percintaan bisa menjadi anak yang soleh dan solehah dan bertakwa kepada Allah SWT. Dengan berdoa, kata Nabi Muhammad SAW, “Kemudian dia dikaruniai seorang anak, maka setan tidak akan memberikan madharat kepadanya selamanya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Sebagian Ulama berpendapat, makna sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Setan tidak akan memberikan madharat kepadanya selamanya.” Di antara pendapat itu mengatakan, dengan berdoa saat jima’ setan tidak mampu menguasai anak ini, karena keberkahan bacaan basmalah. Sehingga mereka termasuk di antara hamba Allah SWT, yang Allah SWT sebut dalam Al Quran, di mana setan tidak memiliki kekuatan untuk mengalahkan mereka.”

Allah telah berfirman,

إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ

Artinya, “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.”(Al Hijr : 42)

Pendapat lain mengatakan, jika Muslim berdoa, setan tidak bisa ikut bergabung bersama sang suami untuk menyetubuhi istrinya. Sebagaimana riwayat dari Mujahid, beliau mengatakan;

“Sesungguhnya, orang yang ber-jima’ dan dia tidak membaca basmalah (doa sebelum jima’), maka setan membelit kemaluan orang ini dan ber-jima’ bersamanya.” Ibnu Hajar mengatakan, “Barangkali, inilah pendapat yang paling mendekati.” (Fatwa al-Islam: Tanya-Jawab, no. 21734)

7. Melakukan mubasharah, ar rasuul, foreplay, atau pemanasan

“Hendaknya suami tidak langsung ke inti, tetapi ada mubasharah atau ar rasuul bahasa gaulnya foreplay terlebih dulu,” kata ia menambahkan.

“Janganlah salah seorang di antara kalian menggauli istrinya seperti binatang. Hendaklah ia terlebih dahulu memberikan pendahuluan, yakni ciuman dan cumbu rayu,” (HR. Tirmidzi)

8. Membawa ke puncak dan saling memberi hak

“Apabila salah seorang di antara kamu menjima’ istrinya, hendaklah ia menyempurnakan hajat istrinya. Jika ia mendahului istrinya, maka janganlah ia tergesa meninggalkannya.” (HR. Abu Ya’la)

9. Mencuci kemaluan dan berwudu jika mau mengulangi

Jika suami selesai melakukan hubungan dan ingin mengulanginya lagi,Rasulullah menganjurkan berwudhu terlebih. Sebagaimana sabdanya,

“إذا أتى أحدكم أهله ثم أراد أن يعود فليتوضأ [بينهما وضوءا] وفي رواية: وضوءه للصلاة فإنه أنشط في العود ”

Artinya, “Apabila kamu telah selesai mendatangi isterinya dan ingin mengulanginya lagi,maka hendaklah berwuduklah di antara keduanya (hubungan seks) ,dan dalam riwayat lain: Wuduk seperti wuduk solat kerana ianya memberi kecergasan dan mengulanginya lagi”. (HR Imam Muslim (1/171), Ibnu Abi Syaibah)

10. Mandi besar (janabat) setelah jima’

Bersambung…….

()