Khodim Zawiyah Arraudhah dan Mudir Jam’iyah Ahlut Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyah (JATMAN) DKI Jakarta, KH. Muhammad Danial Nafis saat memberikan tausiyah singkat sebelum memimpin doa dan dzikir bersama. FOTO: AKTUAL / AHMAD WARNOTO.

Jakarta, aktual.com – Manusia merupakan makhluk yang Allah Swt ciptakan dengan kesempurnaan melebihi ciptaan yang lainnya. Oleh karena itu, Manusia diberikan beban tanggung jawab lebih berat daripada Malaikat dan Jin yaitu menjadi pemimpin di bumi. Seperti firman Allah Swt dalam surat al-Baqarah ayat 30:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Dalam hal ini, Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam kitab Futuhul Ghaib membagi manusia menjadi 4 jenis, yaitu:

Pertama, Kelompok manusia yang tidak memiliki lidah dan tidak berhati. Syekh Abdul Qadir mensifati manusia jenis seperti ini karena mereka tidak pernah mengingat Allah Swt serta tidak melakukan kebaikan sama sekali. Lebih dari itu, Syekh memperingati agar tidak menjadi seperti mereka.

فاحذر أن تكون منهم

“Waspadalah, jangan sampai seperti mereka,”.

Sedangkan bagi mereka yang telah memiliki ilmu dan hati yang kokoh, Syekh Abdul Qadir menganjurkan untuk memberikan mereka pelajaran serta mengajak kepada mereka untuk ta’at kepada Allah Swt.

Khadim Zawiyah Arraudhah, Kh. Muhammad Danial Nafis juga memperingati jama’ah agar tidak mendekati kelompok jenis manusia pertama.

“Jangan sampai kita mendekati orang semacam ini karena pikiran dan hatinya berisi sesuatu yang menjerumuskan dan pemuasan nafsu. Dan orang seperti ini adalah orang yang dibenci Allah dan ditempatkan di neraka,” ucapnya saat mengisi kajian Anwarul Hadi, Selasa (13/9).

Kedua, orang yang berlidah tetapi tidak berhati. Jenis manusia seperti ini menurut Syekh Abdul Qadir yaitu mereka yang berbicaranya bijak, tetapi tingkahnya rusak. Menyeru orang lain kepada Allah Swt, tetapi ia sendiri jauh dari-Nya.
Manusia seperti ini telah diperingati oleh Rasulullah Saw dalam sabdanya,

أخوف ما أخاف على أمتي كل منافق عليم اللسان

“Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takuti menimpa umatku, adalah setiap munafik yang pandai bicara (bersilat lidah).”

Lebih dari itu, Kyai Nafis mengatakan bahwa ciri dari kelompok kedua ini sering menampakkan dirinya sebagai orang alim akan tetapi tidak dibungkus dengan akhlakul karimah.

“Ciri dari orang ini adalah yang pertama, sering mengeksplorasi kepandaiannya di hadapan orang lain tapi tidak dibungkus dengan akhlakul karimah, sehingga seakan-akan aku lah yang paling alim diantara kalian,” ungkapnya.

Ketiga, yaitu manusia yang berhati akan tetapi tidak berlidah. Yaitu mereka yang dibimbing oleh Allah Swt, kemudian ditutupi aib-aibnya dari makhluk dan juga ia mengetahui bahwa keburukan itu berasal dari lisan. Sehingga ia menghindar dari banyak berbicara yang tidak penting dan melalaikan diri dari mengingat Allah Swt.

Mereka mengikuti sabda Rasulullah Saw,

من صمت نجا

“Orang yang banyak diam akan mendapatkan keselamatan.”

Bahkan Syekh Abdul Qadir menganggap bahwa manusia jenis ketiga ini adalah Wali Allah yang disembunyikan dari pandangan Makhluk.

Kemudian untuk ciri dari kelompok ketiga, Kyai Nafis mengatakan bahwa mereka tidak mencintai ketenaran di dunia. karena hidup mereka hanya untuk Allah Swt.

“Orang semacam ini tidak mencari kemasyhuran (ketenaran) karena hidupnya bukan untuk makhluk tapi hanya untuk Allah Swt,” katanya.

Keempat, yaitu manusia yang memiliki hati dan juga lisan. Jenis manusia seperti ini diberikan keistimewaan oleh Allah Swt dengan mengetahui rahasia-rahasianya serta dibimbing, diluaskan hatinya agar dapat menerima berbagai pengetahuan yang tidak dapat diketahui melainkan oleh mereka yang diberikan petunjuk oleh Allah Swt.

Rasulullah Saw telah memberi kriteria manusia jenis ini, yaitu mereka yang belajar ilmu Allah, kemudian mengamalkannya serta mengajarkannya.

من تعلم و عمل و علم دعي في الملكوت عظيما

“Barangsiapa yang mempelajari ilmu, mengamalkannya, dan mengajarkannya, maka ia akan mendapatkan undangan yang agung di kerajaan langit.”

Berbeda dengan jenis manusia pertama, Syekh Abdul Qadir justru memperingatkan agar tidak menentang serta melecehkan ucapannya.

احذر أن تخالفه و تنافره

“Berhati-hatilah kamu, agar tidak menyelisihi dan menentangnya.”
Itulah empat jenis Manusia menurut Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam kitab Futuhul Ghaib-nya.

Waallahu a’lam

(Rizky Zulkarnain)