Jakarta, AKtual.com – Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengungkap bahwa keterpilihan Joko Widodo sebagai Presiden Republik Indonesia karena disokong pengembang reklamasi Teluk Jakarta. Ahok mengatakan demikian saat menggelar rapat dengan Direksi PT Jakarta Propetindo (Jak Pro) tanggal 26 Mei 2015 dan diunggah di Youtube, Selasa 21 Juni 2016.
“Saya pengen bilang Pak Jokowi tidak bisa jadi Presiden kalau ngandalin APBD, saya ngomong jujur kok. Jadi selama ini kalau bapak ibu lihat yang terbangun sekarang, rumah susun, jalan inpeksi, waduk semua, itu semua full pengembang, kaget gak,” ucap Ahok.
Menanggapi hal itu, Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra Andre Rosiade mengatakan pernyataan Ahok tersebut dilontarkan karena posisinya semakin terdesak. Terutama terkait aliran dana pengembang ke TemanAhok, hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dalam pembelian lahan Rumah Sakit Sumber Waras (RSSW) dan KTP bodong. (Baca: Ahok: Pak Jokowi Tidak Bisa Jadi Presiden Kalau Gak Disokong Pengembang)
“Ini pengalihan isu, kan Ahok belakangan terdesak. Soal dugaan aliran dana Rp30 miliar dari pengembang ke TemanAhok misalnya, Komisi Pemberantasan Korupsi sudah menerbitkan surat perintah penyelidikan,” terangnya saat dihubungi, Jumat (24/6).
Surat perintah penyelidikan terkait aliran dana Rp30 miliar ke TemanAhok ini sebelumnya disampaikan Ketua KPK Agus Rahardjo, Selasa (21/6) lalu, sudah diterbitkan dan tinggal ditandatangani untuk dinaikkan ke tahap penyelidikan secara intensif.
Keterdesakan Ahok berikutnya, lanjut Andre, yakni terkait banyaknya KTP bodong yang dilakukan TemanAhok. Hal ini diketahui oleh beberapa eks TemanAhok yang mempublikasikannya sendiri ke media.
Terakhir, Ahok terdesak karena setelah pertemuan BPK dengan KPK baru-baru ini. BPK menginstruksikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta agar segera mengembalikan kerugian negara sebesar Rp191 miliar dalam pembelian lahan Rumah Sakit Sumber Waras.
“Perintah BPK, itu kan sudah dikirimkan melalui surat ke Pemprov DKI agar segera mengembalikan kerugian negara. Karena beberapa alasan itulah Ahok terpojok, lalu dikeluarkan amunisi-amunisi baru,” jelas Andre.
Laporan: Sumitro
Artikel ini ditulis oleh:

















