Para pejuang kelompok Irak Syiah Kataib Sayyid al-Suhada berkumpul dekat Fallujah, Irak, Senin (23/5). ANTARA FOTO/REUTERS/Thaier Al-Sudani/cfo/16

Sudan, Aktual.com- Jumlah korban tewas akibat konflik di Sudan Selatan bertambah hingga 272 jiwa, termasuk 33 warga sipil, demikian menurut sumber dari pemerintah pada Minggu berkenaan dengan aksi tembak-menembak yang kembali terjadi di beberapa wilayah kota itu.

Konflik meletus pada Kamis dan Jumat, melibatkan pasukan loyalis Presiden Salva Kiir dan tentara yang mendukung Wakil Presiden Riek Machar.

Banyak pihak menilai, Sudan Selatan akan kembali terguncang setelah mulai pulih dari perang sipil yang terjadi selama dua tahun, dimulai sejak Desember 2013 usai Kiir memecat Machar sebagai wapres.

Juba dikabarkan sempat tenang pada Sabtu, tetapi saksi mengatakan suara tembakan terdengar di Gudele dan Jebel, kawasan pinggiran Juba, berlokasi dekat pangkalan militer pasukan loyalis Machar.

“Sekitar 30 sampai 40 menit lamanya kami mendengar suara senjata artileri di arah Jebel,” ungkap salah satu ajudan di pemerintahan yang tak ingin disebut namanya.

Perang sipil di Sudan Selatan turut melibatkan etnis dari Presiden Kiir, suku Dinka dan suku Nuer yang terhubung dengan Wapres Machar.

Kesepakatan damai pada Agustus lalu dianggap telah mengakhiri perang, tetapi Kiir dan Machar belum juga menyatukan pasukannya, padahal langkah itu merupakan salah satu isi perjanjian.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-moon mengatakan pada Jumat, aksi kekerasan belum lama ini menunjukkan kurangnya tekad kedua belah pihak mengikuti proses perdamaian.

Ia menambahkan, para pemimpin terkait agar segera mengakhiri perperangan, mengatur para pemimpin militernya, serta bekerja sama menjalankan isi kesepakatan damai.

Artikel ini ditulis oleh:

Antara