Mengikuti perkembangan yang terjadi di Suriah akhir-akhir ini, memang bikin kita miris. Ada sebuah paradoks yang pahit. Sejarawan Prancis, Andre Parot, melukiskan Suriah sebagai tempat lahirnya peradaban alias cradle of civilization. Mengutip ungkapan Parot yang menarik: semua manusia yang berbudaya berasal dari dua bangsa. Bangsanya sendiri dan Suriah.”

 

Namun tragedy serangan kimia pada 2013 di Ghouta timur dekat kota Damaskus yang mana 1429 orang tewas dan serangan kimia yang terjadi minggu ini di kota Khan Sheikhoun yang memakan 72 , maka tesis Parot bahwa semua budaya yang beradab pastilah berasal dari Suriah, sepertinya mulai runtuh fondasinya.

 

Lepas dari soal itu, geopolitik Suriah memang punya nilai yang amat strategis. Betapa tidak. Sebelum negara-negara imperialis Eropa Barat menjajah kawasan Timur Tengah, Suriah sebenarnya menyatu dengan Lebanon dan Palestina. Bahkan secara geostrategi(geoposisi) Suriah merupakan wilayah yang menghubungkan tiga benua: Eropa, Afrika, dan Asia.

 

Ketika Dinasti Ummayah bertahta, Suriah merupakan pusat kekhalifahan Islam yang mana wilayah kekuasaannya membentang dari Prancis, Spanyol, Asia Tengah dan India.

 

Pertanyaannya, benarkah pemerintahan Suriah yang berinisiatif melakukan serangan kimia? Padahal saat ini pemerintahan Bashar al Assad sudah berhasil merangsek maju ke berbagai lini mulai dari Hama, Deraa, Aleppo hingga Damaskus.

 

Jika serangan kimia tersebut merupakan prakarsa Suriah, rasa-rasanya tidak masuk akal. Karena menggunakan senjata kimia pada perkembangannya akan membuat pemerintah dalam posisi sulit, sebaliknya akan menciptakan situasi yang kondusif buat aksi-aksi terorisme.

 

Lantas, siapa saja yang akan diuntungkan dari merebaknya aksi-aksi terorisme di Suriah? Yang jelas, kota Khan Sheikhoun secara geografis memang sangat strategis. Kota yang saat ini berpenduduk 100.000 jiwa tersebut, terletak di titik petemuan tiga propinsi yaitu Idlib, Aleppo, dan Hama. Khan Sheikhoun hanya terletak 72 kilometer arah utara kota Hama. Atau 70 kilometer arah selatan kota Idlib, dan sekitar 100 km arah barat daya kota Aleppo. Selain itu, provinsi Idlib dan kota Hama merupakan urat nadi negara Suriah karena provinsi ini sangat kaya dengan lahan pertanian yang subur.

 

Sepertinya nilai strategis Khan Sheikhoun karena fungsinya sebagai pusat penghubung provinsi Idlib, Hama, Aleppo dan Latikia. Dalam situasi demikian, sebenarnya pemerintah Suriah bukan satu-satunya yang berkepentingan untuk menguasai sepenuhnya Khan Sheikhoun, Hama, Aleppo, Deraa maupun Latikia.

 

Memang betul pemerintah Suriah sangat mengkhawatirkan jika sewaktu-waktu Khan Sheikhoun akan jatuh lepas dari kendali pemeruntahan Assad.

 

Namun, apakah benar kecemasan tersebut yang kemudian mendorong pemerintah Suriah melancarkan serangan senjata kimia ke Khan Sheikhoun? Siapa pelaku dan penggagas sesungguhnya dari serangan senjata kimia ke kota tersebut?

 

Pepatah bijak mengatakan: siapa yang paling diuntungkan dengan insiden ini, maka kau akan dituntun pada siapa pelaku sesungguhnya.

 

Sekarang selintas mengenai serangan kimia itu sendiri. Kalau benar serangan kimia menggunakan Sarin, maka pada hakikinya maka perolu diketahui bahwa bahannya lebih berbahaya dari hasil akhirnya.

 

Bayangkan. Sarin memerlukan ketersediaan hydrogen fluoride dalam jumlah besar dan kontinyu, dalam temperatur yang tinggi. Bukan itu saja. Produk akhir dalam bentuk cairan tersebut tidak boleh sekali-sekali membiarkan timbulnya kebocoran barang sedikit pun.

 

Kalau ini yang jadi patokan, maka perlu diketahui, bahwa Suriah secara resmi dipaksa menghancurkan senjata kimia (stok, peralatan dan fasilitas) sejak 2013 hingga 2015 – dengan pengawasan OPCW dan AS – sehingga kemampuan Suriah untuk memproduksi sarin hilanglah sudah.

 

Lantas kalau bukan Suriah, siapa yang paling mungkin memiliki dan mengakses sarin? Siapapun mereka, pastinya dana dan kemampuan teknis jadi faktor penentu paling utama.

Hendrajit