Keputusan Presiden Donald Trump memecat James Comey, Kepala Biro Penyelidik Federal (FBI) bisa membuka kotak pandora yang mengarah pada keterlibatan Rusia dalam kampanye pilpres AS beberapa waktu lalu. Yang andaikan itu benar, pastinya sangat mengkhawatirkan bagi Trump dan para kroninya. Apalagi sebelumnya, Presiden Trump terpaksa memecat penasehat keamanan nasionalnya, Michael Flynn karena diduga telah melakukan percakapan telepon dengan Duta Besar Rusia untuk AS.Fakta bahwa selama ini seseorang yang menjabat sebagai penasehat keamanan nasional praktis merupakan orang paling dfekat dan terpercaya presiden, maka dugaan keterlibatan Michael Flynn sudah bisa dianggap lampu kuning bagi Presiden Trump.

Perkembangan terbaru ini memang menarik, sebab meskipun alasan resmi pemecatan terhadap Comey terkait bocornya surat elektronik yang melibatkan mantan calon presiden Hillary Clinton, namun fakta yang tak terbantahkan adalah bahwa saat ini FBI sedang melakukan investigasi soal dugaan orang terdekat Trump menjalin kontak intensif dengan Rusia untuk mempengaruhi hasil pemilu presiden yang baru lalu.
Apalagi dalam sebuah berita yang dilansir oleh kantor berita AFP Kamis (11/05), beberapa hari sebelum pemecatan, Comey mengatakan kepada anggota parlemen AS bahwa dia telah menghubungi Departemen Kehakiman. Kepada Departemen Kehakiman, Comey meminta sokongan sumber daya, guna mempercepat penyelidikan FBI dalam dugaan campur tangan Rusia dalam proses pemilihan Presiden AS tahun lalu.
Dugaan keterlibatan Rusia itu menyangkut dua hal, yakni aksi peretasan Rusia terhadap kelompok Demokrat tahun lalu, dan apakah tim kampanye Trump memiliki hubungan dengan Moskwa?
Terkait soal kemungkinan Trump memiliki hubungan dengan Moskwa agaknya bisa jadi masalah politis yang cukup serius, karena kalau terbukti benar, maka akhirnya bisa mengarah pada impeachment alias pemakzulan.
Seperti halnya yang pernah menimpa Presiden Richarm M Nixon, ketika harian Washington Post berhasil membongkar adanya konspirasi lingkar-kekuasaan Presiden Nixon dalam aksi penyadapan markas besar Partai Demokrat pada pilpres yang membawa Nixon terpilih kedua kalinya sebagai presiden AS pada 1974.
Menariknya, terbongkarnya skandal Watergate berkat kegigihan dua wartawan Washgington Post Bob Woodward dan Carl Bernstein , berkat pasokan informasi secara diam-diam alias anonim dari sebuah sumber yang disebut Deep Throat, karena si sumber menolak menyebyt jatidirinya.
Namun belakangan pada 2005 lalu, Deep Throat membuat pengakuan bahwa dirinya bernama W. Mark Felt, yang pada saat memasok informasi penting kepada Woodward dan Berestein, masih menjabat orang nomor dua di FBI.
Salah satu kredonya yang terkenal dalam mengarahkan kedua wartawan Washington Post tersebut adalah: IKUTI ALIRAN DANANYA. Dan ternyata memang benar. Melalui penelisikan aliran dana, terungkap adanya persekongkolan orang orang dekat Nixon di Gedung Putih, dalam aksi penyadapan Markas Partai Demokrat. Sehingga semua strategi dan siasat tim pemenangan pesaing Nixon kala itu, berhasil diketahui untuk kemudian dimentahkan.
Sehingga akhirnya Nixon menjadi satu-satunya presiden AS yang pernah mengundurkan diri sewaktu masih menjabat.
Hendrajit






:strip_icc():format(jpeg)/liputan6-media-production/medias/439326/big/030605aLnWashingtonPost.jpg)
















