Sepertinya ada yang salah pada diri kita dalam menyikapi persoalan bangsa ini. Kita kerap menggunanakan kacamata global yang materialistik. Padahal, bangsa Indonesia memiliki nilai-nilai sendiri warisan leluhur yang seharusnya kita jadikan acuan untuk menjalani hidup, entah sebagai rakyat biasa, pengusaha, cendekiawan, pemimpin, atau apa pun.
Saatnya kita tengok kembali ajaran moral warisan leluhur itu, kita dikaji lebih mendalam, sehingga kita mendapat pemahaman tentang bagaimana kita mengatur keseimbangan antara fisik, mental, dan spiritual.
Ajaran itu bersumber dari kearifan lokal Nusantara. Sebut, misalnya, konsep Caturmukti yang diajarkan oleh Sosrokartono, yakni konsep kesatuan antara rasa, cipta, karsa, dan karya.
Kita sebenarnya kerap mengutip bagian dari Caturmurti yang terkenal itu, misalnya:
“sugih tanpå båndhå
digdåyå tanpå aji
nglurug tanpå bålå
menang tanpå ngasorake”
(kaya tidak perlu berharta
sakti tanpa jimat
menyerbu tanpa pasukan
menang tanpa merendahkan)
“trimah mawi pasrah
suwung pamrih tebih ajrih
langgeng tanpå susah
tan ånå bungah”
(menerima dengan pasrah
sepi dari rasa pamrih, tidak ada rasa takut
hidup tanpa ada rasa susah
tak perlu pula bergembira ria)
“anteng manteng sugeng jeneng
durung unggul yen ora wani asor
durung gedhe yen ora wani cilik”
(tenang menghadapi masalah
tak akan ada menang bila belum berani kalah
tak akan jadi besar bila belum berani menjadi kecil)
Semuanya itu dalam kerangka menjadikan hidup kita selamat. Untuk bisa selamat, ada sembilan proses kehidupan yang dirumuskan menjadi 9-W:
1. WAREG: cukup makan dan minum
2. WASTRÅ BUSÅNÅ: tersedia sandang
3. WISMÅ: tersedia rumah
4. WARAS: sehat jasmani sekaligus rohani
5. WASIS: terampil bekerja
6. WARGÅ BEBRAYAN: berkeluarga
7. WARIH KUSUMÅ: berbudi, beretika, tekun, jujur, efisien, dan produktif
8. WASPÅDÅ: berhati-hati menjalani hidup
9. WASKITÅ: tajam penglihatan batin, arif bijaksana, mampu merancang dan memprediksi masa depan.

M Djoko Yuwono, wartawan senior dan budayawan





















