Lampung, Aktual.com – Abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau dalam beberapa hari terakhir mengganggu aktivitas warga di bagian wilayah Desa Pulau Sebesi, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.
“Saat ini, kegiatan di luar rumah sangat terbatas. Keluar rumah tanpa motor sudah tidak memungkinkan, dan tanpa kaca mata, abu vulkanik dapat masuk ke mata,” ujar Riko, Kepala Dusun Regan Lada di Desa Pulau Sebesi, pada hari Sabtu (16/12).
Riko menyampaikan bahwa dampak abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau telah dirasakan oleh warga selama hampir lima hari terakhir.
“Warga berharap dapat bantuan masker dan kaca mata karena aktivitas sehari-hari terhambat oleh hujan abu vulkanik,” tambahnya.
Angga Irawan, seorang warga Desa Pulau Sebesi, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap dampak kesehatan akibat hujan abu dari Gunung Anak Krakatau.
“Ketika keluar rumah, udara yang kita hirup tidak sehat lagi karena tercampur debu, abu vulkanik, dan mengganggu jarak pandang,” ujar Angga.
Berdasarkan informasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Gunung Anak Krakatau mengalami serangkaian erupsi pada Sabtu pukul 07.35 WIB, pukul 08.26 WIB, dan pukul 10.24 WIB.
Selama erupsi tersebut, gunung melemparkan abu vulkanik dengan ketinggian antara 500 meter sampai 1.000 meter di atas puncaknya.
PVMBG mencatat bahwa Gunung Anak Krakatau juga mengalami erupsi pada Selasa (12/12), Rabu (13/12), Kamis (14/12), dan Jumat (15/12).
Status Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, wilayah Kabupaten Lampung Selatan, berada pada Level III atau Siaga, demikian informasi yang disampaikan oleh PVMBG.
Dalam kondisi ini, warga, pengunjung, wisatawan, dan pendaki tidak diperbolehkan mendekati Gunung Anak Krakatau atau melakukan aktivitas di area dalam radius 5 km dari kawah aktifnya.
Artikel ini ditulis oleh:
Sandi Setyawan

















