Teheran, aktual.com – Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, Sabtu (17/1) menyatakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas korban jiwa dan kerusakan yang terjadi selama gelombang protes terbaru di Iran.
Berbicara dalam sebuah pertemuan di Teheran, Khamenei mengatakan bahwa dalam apa yang ia sebut sebagai “hasutan” baru-baru ini, presiden AS terlibat secara langsung dengan melontarkan ancaman serta mendorong dan mendukung para penghasut.
“Saya tegaskan dengan jelas bahwa tujuan Amerika dalam hasutan terbaru ini adalah ‘menelan’ Iran,” ujarnya.
Aksi protes antipemerintah yang dipicu memburuknya kondisi ekonomi dan anjloknya nilai mata uang nasional Iran, rial, pecah di Teheran akhir bulan lalu dan kemudian meluas ke sejumlah kota lain di Iran.
Pada 8 Januari, aksi tersebut berubah menjadi kekerasan setelah putra mantan raja Iran yang bermukim di AS menyerukan masyarakat turun ke jalan untuk memprotes pemerintah.
Di tengah bentrokan sengit antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan, ratusan korban dilaporkan berjatuhan, terutama di provinsi-provinsi bagian barat.
Kepolisian menyatakan bahwa aksi protes damai telah “dibajak oleh perusuh” yang, menurut klaim mereka, didukung oleh badan intelijen AS dan Israel.
Sejumlah serangan dilaporkan terjadi terhadap gedung-gedung pemerintah, kantor polisi, toko, bank, dan masjid di berbagai wilayah, termasuk di Teheran. Kerusakan yang ditimbulkan diperkirakan mencapai ratusan juta dolar AS berdasarkan perhitungan awal.
Hingga kini, jumlah resmi korban tewas belum diumumkan, sementara perkiraan tidak resmi menyebutkan angka berkisar dari ratusan hingga ribuan orang.
Khamenei mengatakan bahwa sejak Revolusi Iran 1979, AS berupaya “mengembalikan dominasinya” atas Iran, dan seluruh pemerintahan di Washington, menurutnya, menjalankan kebijakan yang sama.
Ia menambahkan, jika sebelumnya tokoh-tokoh media Barat terlibat, kali ini presiden AS sendiri yang “mendorong para penghasut,” yang ia sebut sebagai kelompok bersenjata.
Khamenei juga menuduh AS dan Israel telah “mengidentifikasi dan melatih” sejumlah individu di dalam Iran untuk menciptakan ketakutan dan melakukan perusakan, seraya menambahkan bahwa aparat penegak hukum telah menangkap “sejumlah besar” dari mereka.
Ia menyebut para perusuh membakar sekitar 250 masjid di seluruh negeri serta menyerang bank dan toko.
Iran, kata Khamenei, tidak menginginkan perang, namun tidak akan membiarkan “para penjahat domestik dan internasional” lolos tanpa hukuman.
Ia juga menyinggung kondisi ekonomi nasional yang dinilainya sedang tidak baik, dengan kehidupan masyarakat berada dalam tekanan serius.
Khamenei meminta otoritas terkait bekerja dengan kesungguhan lebih besar dalam penyediaan kebutuhan pokok, pakan ternak, pangan, serta pasokan penting lainnya bagi masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Trump mengatakan telah menangguhkan rencana serangan terhadap Iran dan bahwa negara itu telah menghentikan eksekusi terhadap para pengunjuk rasa.
Sementara itu, lembaga peradilan Iran menyatakan hingga kini belum ada seorang pun yang terlibat dalam aksi protes terbaru yang dijatuhi hukuman mati.
Artikel ini ditulis oleh:
Rizky Zulkarnain

















