Brussel, aktual.com – Uni Eropa akhirnya mencapai kesepakatan politik untuk menjatuhkan sanksi terhadap pemukim Israel yang melakukan kekerasan di wilayah Tepi Barat.
Langkah tersebut menjadi pertama kalinya Uni Eropa berhasil memperoleh dukungan suara bulat untuk menjatuhkan sanksi terhadap pihak Israel sejak memuncaknya konflik Gaza.
Sebelumnya, Komisi Eropa telah mengusulkan kebijakan sanksi tersebut sejak tahun lalu. Namun usulan itu sempat tertunda akibat penolakan sejumlah negara anggota, terutama Hungaria.
Dukungan resmi akhirnya diberikan para menteri luar negeri negara anggota Uni Eropa dalam pertemuan di Brussel, Senin (11/5/2026).
Sanksi tersebut akan menyasar sejumlah individu dan organisasi yang dianggap terlibat dalam aksi kekerasan terhadap warga Palestina di Tepi Barat.
Untuk memperoleh dukungan penuh negara-negara anggota, nama Menteri Israel Bezalel Smotrich dan Itamar Ben-Gvir yang sebelumnya sempat masuk dalam daftar sanksi akhirnya dihapus.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas melalui unggahannya di platform X menyatakan bahwa paket sanksi tersebut juga mencakup langkah baru terhadap tokoh-tokoh utama Hamas.
Menurut Kallas, sudah saatnya Uni Eropa mengambil tindakan tegas terkait eskalasi konflik yang terus berlangsung.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa’ar mengkritik keras keputusan tersebut.
Ia menyebut kebijakan Uni Eropa sebagai langkah yang “semena-mena dan bermuatan politik”.
Gideon juga menilai perbandingan yang dilakukan Uni Eropa antara warga Israel dan Hamas sebagai sesuatu yang tidak masuk akal.
“Perbandingan tidak masuk akal yang dipilih Uni Eropa antara warga negara Israel dan teroris Hamas adalah sesuatu yang keterlaluan,” ujarnya.
Sanksi terbaru ini disebut lebih terbatas dibandingkan proposal awal yang sebelumnya diajukan Komisi Eropa.
Selain sanksi individu, Komisi Eropa sebelumnya juga sempat mengusulkan penangguhan perjanjian perdagangan dengan Israel.
Tak hanya itu, Uni Eropa saat ini juga tengah mempelajari usulan dari Prancis dan Swedia terkait penerapan tarif terhadap barang-barang yang berasal dari permukiman Israel di Tepi Barat.
Diplomat tertinggi Luksemburg, Xavier Bettel, mengatakan selama ini Uni Eropa kerap gagal mengambil langkah karena adanya negara anggota yang terus bersikap ragu-ragu.
“Kami tidak mampu mengambil langkah apa pun karena selalu ada negara yang ragu-ragu. Saya memahami ada yang merasa, karena alasan sejarah, mereka memiliki utang moral abadi kepada Israel, tetapi itu tidak bisa dimaafkan. Kita tidak bisa menutup mata,” kata Bettel kepada wartawan.
Artikel ini ditulis oleh:
Tino Okt

















