Ilustrasi - Kehancuran di Jalur Gaza. ANTARA/Anadolu/py.
Ilustrasi - Kehancuran di Jalur Gaza. ANTARA/Anadolu/py.

Jakarta, Aktual.com – Jumlah korban tewas akibat agresi Zionis Israel di Jalur Gaza yang berlangsung sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai 72.736 orang, dengan 172.535 lainnya terluka, menurut sumber medis setempat.

Mereka melaporkan rumah sakit yang masih beroperasi di seluruh Jalur Gaza menerima lima korban tewas dan 15 korban luka dalam 24 jam terakhir, Minggu (10/5).

Jumlah keseluruhan warga Palestina yang tewas sejak diberlakukan gencatan senjata 11 Oktober 2025 telah mencapai 850, sementara korban luka bertambah menjadi 2.433 orang. Sebanyak 770 jasad juga telah ditemukan dari timbunan reruntuhan.

Menurut tim medis setempat, sejumlah korban masih terjebak di bawah reruntuhan dan di jalan-jalan lantaran ambulans serta tim penyelamat masih belum dapat menjangkau mereka akibat kondisi di lapangan yang belum kondusif.

Perluas Wilayah Pendudukan 

Zionis Israel juga dilaporkan telah memperluas wilayah pendudukan di Jalur Gaza, Palestina, hingga 59 persen wilayah tersebut dan tengah mempersiapkan kemungkinan dimulainya kembali genosida di wilayah kantong Palestina itu, Minggu (3/5).

Sebelum gencatan senjata pada Oktober 2025, Zionis Israel mengklaim menguasai sekitar 53 persen wilayah Jalur Gaza.

Demi memperluas wilayah pendudukan, pejabat militer senior Zionis Israel bahkan mendesak dimulainya kembali pertempuran di Jalur Gaza dan meyakini bahwa saat ini adalah waktu terbaik untuk mengalahkan Hamas.

Militer Zionis Israel juga dilaporkan telah mengurangi kekuatan di Lebanon Selatan dan mengerahkan kembali brigade reguler ke Gaza serta Tepi Barat.

Disebutkan pula bahwa komando wilayah selatan telah menyelesaikan rencana operasional dan siap melanjutkan pertempuran jika diperintahkan oleh kepemimpinan politik.

Laporan itu mencuat di tengah pelanggaran gencatan senjata yang terus berlangsung oleh Zionis Israel di wilayah Jalur Gaza serta serangan di wilayah Tepi Barat.

Gencatan senjata tersebut sebelumnya dimaksudkan untuk mengakhiri serangan Israel selama dua tahun di Gaza yang menewaskan lebih dari 72.000 orang dan melukai 172.000 lainnya, serta menghancurkan 90 persen infrastruktur sipil

Artikel ini ditulis oleh:

Eroby Jawi Fahmi