Jakarta, Aktual.com — Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Amerika Serikat dilaporkan memberlakukan blokade angkatan laut di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global. Langkah tersebut disebut mencakup upaya mencegah kapal dari dan menuju pelabuhan-pelabuhan Iran melintasi perairan tersebut.
Dalam beberapa hari terakhir, militer AS juga dilaporkan menyerang sejumlah kapal dan tanker minyak Iran. Situasi ini memperbesar risiko eskalasi konflik di kawasan yang selama ini menjadi pusat distribusi minyak dunia.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah meningkatkan kesiapan militernya. Dalam pernyataan yang diunggah melalui platform X, divisi dirgantara IRGC menyebut sistem rudal dan drone mereka telah mengunci target militer AS di kawasan tersebut.
“Kami sedang menunggu perintah untuk menembak,” demikian pernyataan IRGC dalam unggahannya.
Seiring meningkatnya ketegangan, Iran juga disebut mengandalkan strategi pertahanan yang dikenal sebagai “armada nyamuk” untuk mengontrol Selat Hormuz. Mengutip laporan Financial Times, Minggu, armada tersebut terdiri dari ratusan kapal kecil yang dirancang untuk mobilitas tinggi dan serangan cepat.
Para ahli yang dikutip dalam laporan tersebut menyebutkan bahwa Iran memiliki sekitar 20 kapal selam mini kelas Ghadir, serta ribuan kapal cepat yang dilengkapi rudal dan persenjataan ringan. Kombinasi ini dinilai mampu memberikan tekanan signifikan terhadap armada laut konvensional.
“Armada nyamuk membantu Iran mempertahankan ancaman yang cukup untuk menghalangi kapal-kapal melintasi Selat Hormuz,” tulis Financial Times, dikutip dari laporan tersebut.
Selain itu, sebagian kapal dalam armada tersebut diproduksi secara domestik dengan biaya relatif rendah sehingga mudah digantikan, sementara lainnya memiliki kemampuan tempur lebih canggih. Strategi ini memungkinkan Iran untuk mempertahankan kehadiran militer yang fleksibel dan sulit diprediksi di kawasan perairan sempit seperti Selat Hormuz.
Menurut laporan National Defense Magazine, armada tersebut merupakan salah satu kekuatan permukaan paling aktif milik Iran dan dirancang untuk menghadapi kekuatan laut yang lebih besar, termasuk Angkatan Laut AS.
Situasi ini berkembang setelah konflik militer antara AS, Iran, dan Israel yang memuncak pada akhir Februari. Serangan yang terjadi sejak 28 Februari dilaporkan menewaskan lebih dari 3.000 orang sebelum kedua pihak menyepakati gencatan senjata pada 8 April.
Meski gencatan senjata telah diumumkan, ketegangan belum sepenuhnya mereda. Upaya diplomasi lanjutan yang berlangsung di Islamabad dilaporkan belum menghasilkan kesepakatan konkret, sementara aktivitas militer di kawasan tetap meningkat.
Perkembangan ini menimbulkan kekhawatiran global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi sekitar sepertiga pengiriman minyak dunia. Setiap gangguan di kawasan tersebut berpotensi memicu lonjakan harga energi dan berdampak luas terhadap perekonomian global.
Sumber: Sputnik / RIA Novosti
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















