Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian
Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian

Jakarta, Aktual.com — Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, mengapresiasi pelaksanaan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di sekolah yang digagas pemerintah sebagai bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) di bidang pendidikan dan kesehatan.

Apresiasi tersebut disampaikan Hetifah menyusul pemaparan program oleh Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti.

Menurut Hetifah, program ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia melalui pendekatan preventif sejak usia sekolah. Ia menilai kesehatan peserta didik menjadi faktor penting yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan.

“Program ini sangat baik karena menunjukkan bahwa pembangunan pendidikan tidak bisa dipisahkan dari kesehatan peserta didik. Anak yang sehat akan lebih siap belajar, berkembang, dan berprestasi,” kata Hetifah, Sabtu (9/5/2026).

Ia menambahkan, layanan pemeriksaan kesehatan langsung di sekolah merupakan langkah strategis untuk mendeteksi dini berbagai persoalan kesehatan anak secara lebih luas dan merata.

Berdasarkan data pemerintah, hingga awal Mei 2026 program tersebut telah menjangkau sekitar 4,8 juta siswa di lebih dari 48 ribu sekolah di seluruh Indonesia. Dari hasil pemeriksaan, sekitar 1,1 juta siswa mengalami masalah gigi berlubang dan sekitar 663 ribu siswa terindikasi tekanan darah tinggi.

Hetifah menilai temuan tersebut menjadi peringatan penting bahwa persoalan kesehatan anak berdampak langsung pada proses belajar dan perkembangan mereka.

“Kita sering menganggap persoalan kesehatan anak sebagai hal kecil, padahal dampaknya bisa sangat besar terhadap konsentrasi belajar dan perkembangan jangka panjang,” ujarnya.

Meski demikian, Hetifah menekankan bahwa perhatian terhadap kesehatan siswa tidak boleh hanya berfokus pada aspek fisik. Ia mengingatkan pentingnya memasukkan kesehatan mental sebagai bagian dari kebijakan pendidikan nasional.

Menurutnya, berbagai tekanan seperti beban akademik, perundungan, hingga tantangan di lingkungan digital menjadi faktor yang memengaruhi kondisi psikologis siswa.

Ia pun mendorong sekolah menjadi ruang yang aman dan suportif, termasuk melalui penguatan layanan konseling serta skrining kesehatan mental.

“Sekolah tidak hanya menjadi tempat mengejar capaian akademik, tetapi juga harus mampu menjaga kesehatan emosional dan psikologis peserta didik,” tegasnya.

Selain itu, Hetifah mendorong kolaborasi antara sekolah, tenaga kesehatan, guru bimbingan konseling, dan orang tua agar penanganan kesehatan siswa dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi